Siapa orang Nduga itu? Orang Nduga adalah manusia yang hidup di daerah kabupaten Nduga yang dalam etnografi Papua disebut Suku Nduga. Menurut asal suku bangsanya, suku Nduga berasal dari Seinma{lebih lengkap dapat dilihat pada artikel penulis yang berjudul “asal usul suku Nduga” Bagian Timur Pegunungan Tengah Papua Barat tepatnya di lembah Baliem. Dan diperkirakan mereka tiba dan menetap di daerah Ndugama sejak tahun ratusan tahun silam.
Daerah Ndugama [suku Nduga ] adalah di sekitar sebelah selatan pegunugan tengah Papua, Pengunungan Jayawijaya. wilayah Ndugama hanya di diami oleh suku Nduga.
Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari “perubahan” di segala dimensi kehidupan. Proses akulturasi dan asimilasi budaya merupakan awal dari pada proses perubahan tersebut. Tak terkecuali,suku Nduga terlibat dalam proses itu. Dimana telah terbukti bahwa orang Nduga, telah menerima budaya lokal maupun budaya modern. Entah melalui ajaran gereja [agama] maupun pemerintah [Indonesia].
Untuk itu, tulisan ini dimaksudkan memperjelaskan “mempertanyakan eksistensi budaya suku Nduga.”Untuk membuka cakrawala pemikiran kita akan “proses perubahan” yang telah, sedang dan akan terjadi di Ndugama berdasarkan nilai-nilai budaya hidup orang Nduga.
Semuanya ada dan masih utuh [sebelum tahun 1963]Daerah Ndugama [suku Nduga ] adalah di sekitar sebelah selatan pegunugan tengah Papua, Pengunungan Jayawijaya. wilayah Ndugama hanya di diami oleh suku Nduga.
Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari “perubahan” di segala dimensi kehidupan. Proses akulturasi dan asimilasi budaya merupakan awal dari pada proses perubahan tersebut. Tak terkecuali,suku Nduga terlibat dalam proses itu. Dimana telah terbukti bahwa orang Nduga, telah menerima budaya lokal maupun budaya modern. Entah melalui ajaran gereja [agama] maupun pemerintah [Indonesia].
Untuk itu, tulisan ini dimaksudkan memperjelaskan “mempertanyakan eksistensi budaya suku Nduga.”Untuk membuka cakrawala pemikiran kita akan “proses perubahan” yang telah, sedang dan akan terjadi di Ndugama berdasarkan nilai-nilai budaya hidup orang Nduga.
Bila kita telusuri sejarah dan budaya leluhur kita pada masa sebelum Misionaris [1963] semua itu masih utuh, dan begitu indah dan kaya dengan kebudayaan asli mereka. Mmenurut penulis,kira-kira penuli adalah generasi ke 4 atau 5 terhitung sejak masuknya keluar dari daerah lembah baliem hingga masuk ke daerah Nduga.
Orang Nduga [Suku Nduga] disebut manusia karena mereka hidup diatas dua telapak kakinya sendiri dan tidak tergantung pada orang lain. Dan mereka memiliki struktur kehidupan yang jelas dan tersendiri yaitu pertama, mempunyai tatanan sosial yang jelas; Kedua, mempunyai tradisi yang tersusun rapi; Ketiga, tidak tergantung kepada siapapun dan menciptakan suasana hidupnya sendiri; Keempat, mempnyai rasa percaya diri yang sangat menonjol; Kelima, mempunyai semangat untuk maju yang sangat tinggi; Keenam, mempunyai identitas diri dan nilai-nilai budaya yang sangat jelas.
Bila ditinjau dari kaca mata antropologi, tujuh jenis unsur kebudayaan secara umum dan tiga jenis wujud kebudayaan yang disebutkan oleh Koentjaraningrat, [2002] dalam buku Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Unsur-unsur dan nilai-nilai hidup budaya orang Nduga itu misalnya pertama, adanya sistem religi [kepercayaan] akan Tuhan [Mbal Pem Nagawan] sang pencipta. Kedua, sistem organisasi dan kemasyarakatan, seperti orang kaya [Yi Ombo Ndi Mbo], dan mempunyai tradisi membina relasi yang baik dengan orang lain. Ketiga, sistem pengetahuan seperti, tahu membedakan baik dan buruk. Keempat, bahasa [Nduga wene] orang Nduga mempunyai bahasa daerah [bahasa ibu]. Kelima kesenian, seperti Ndawi, unmuruk dan lain lain. Keenam, sistem mata pencahariahn hidup seperti beternak, bertani dan berburu hewan buruan seperti babi hutan,kasuari,kuskus,kangguru dan mencari ikan di danau. Ketujuh, sistem teknologi, dan peralatan seperti wanggokme [kapak batu], san,mare[busur] dan lain-lain.
Orang Nduga, tidak mengenal tulisan [bentuk huruf] Tetapi, secara lisan mereka [leluhur] telah menurunkan nilai-nilai budaya dalam bentuk bahasa lisan. Masa muda [suje-dugum] adalah masa dimana puncak kejayaan, keistimewaan, kebolehan Sehingga, dalam kehidupan orang Nduga [suku Nduga ], menyebut masa muda adalah masa siang hari. Di sisi lain, masa ini adalah masa yang diselimuti dengan perasaan “kehati-hatian” karena masa ini gampang melewati batas-batas nilai moral budaya setempat [teritory culture]. Sebagai contoh, orang tua Nduga mengatakan “suje-ndugum werasolat kindi nen kwaluk-kwaluk waring korak” [hati-hati pada masa muda sebab masa itu, masa yang gampang jatuh kedalam pencobaan].
Anak muda laki-laki dan perempuan Nduga padamasa itu sangat mematuhi aturan adat. Karena, jika ada yang melanggar, akibatnya adalah dihukum sesuai dengan perbuatannya masing-masing. Sebagai contoh, perbuatan zina, hukuman yang diberikan adalah mencabut Nyawa dengan cara dipanah. Mencuri, bila ada yang kedapatan melakukan pencurian, atau mengaku melakukan pencurian, maka akibatnya adalah jari-jari tangan dibelah sehingga pada waktu dulu orang Nduga (suku Nduga) tidak pernah mencuri.Mencuri apabila ada utang-piutang atau ada dendaman sehingga pencurian dilakukan sebagai pancingan untuk meminta pelunasan utang jika dasar mencurinya karena utang,namun membunuh jika dasar mencurinya karena dendaman pemunuhan anggota keluarga (utang nyawa), Sehingga setiap perbuatan dari kecil sampai besar memunyai hukuman yang berbeda berdasarkan atas perbuatannya masing-masing. Pemberian hukuman yang dianggap melanggar norma-norma budaya ini dimaksudkan untuk menyelamatkan generasi selanjutnya atau menjadi peringatan bagi orang lain yang belum melakukan “perzinahan atau pencurian”.
Nilai dan aturan maskawin, adalah salah satu nilai budaya yang berlaku di hampir tiap suku di Papua. Orang Nduga sejak dahulu tidak menentukan nilai minimal dan maksimal dari harga maskawin. Besar kecilnya, ukuran untuk menentukan nilai harga maskawin adalah berdasarkan atas “perilaku hidup/ karakter” para calon suami. Misalnya, seorang laki-laki muda dituntut untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang layak dilakukan oleh para laki-laki. Sebagai contoh, mencari kayu bakar, membuat kebun, membuat pagar, dan lain sebagainya.
Bila seorang pemuda mampu melakukan pekerjaan seperti tersebut diatas, maka harga/ nilai maskawin menjadi tidak mahal bukan menjadi tidak ada. Karena pihak perempuan menilai dia sebagai laki-laki bertanggung jawab, dan dengan harapan hubungan kekeluargaan antara si lakilaki dan keluarga perempuan akan tetap ada berjalan dengan baik.
Dalam kehidupan suku Nduga peperangan dapat terjadi karena Nyawa,Perempuan,Dusun,Harta.peperangan yang terjadi di dalam kehidupan suku Nduga yang disebabkan oleh harta dapat diselesaikan dengan mudah namun jika tidak terjadi korban jiwa di dalam perang tersebut.Jika peperangan tersebut terjadi karena korban jiwa maka peperangan dapat dihentikan hanya jika nyawa korban diganti dengan nyawa di dalam peperangan tersebut.pendek kata “nyawa ganti nyawa,benda mati ganti benda mati”sesuai dengan permintaan dari keluarga korban.jika keluarga bersangkutan menyatakan perang untuk menganti nyawa maka peperangan dapat dilakukan namun sebaliknya,jika keluarga korban menyatakan bahwa peperangan tidak boleh dilakukan maka peperangan Tidak dapat dilakukan dengan jalan mengadakan perdamaian melalui pembayaran nyawa dengan material.
Dalam mencegah terjadinya perang,suku Nduga mengenal berbagai upacara adat. Salah satu upacara adat perang [ritual perang] adalah upacara yang dilakukan pada saat peperangan [pindokdok]. Dalam upaya mendamaikan peperangan itu, suku Nduga mengenal upacara adat [ritual perang] yaitu “PINDOKDOK” agar perang damai atau melindungi dari bahaya perang.
Upacara dengan menggunakan ikatan anak panah.Upacara ini diselenggarakan pada saat perang, perkara-perkara besar, dengan tujuan agar tercipta perdamaian.
Untuk menghidupi keluarganya, diperlukan lahan [kebun] sebagai sumber penghidupan bagi keluarganya, maka dilakukan berbagai upaya. Misalnya, memagari kebun untuk mencegah hama tikus atau babi yang sering merusak tanaman. Pada saat itu setiap keluarga dibutuhkan 3-4 lahan kebun. Orang-orang yang dulu kuat bekerja tidak seperti saat ini. Mereka membuat pagar ratusan hektar, lalu membagi petak-petak kemudian dibagikan kepada masing-masing keluarga dalam kampung itu. Ada juga kebun di sekitar [pekarangan] rumah sebagai kebun persiapan untuk dipetik [ambil hasil kebun] pada saat hujan atau sakit.
Awal perubahan budaya orang Nduga [1963]
Kontak pertama orang Nduga dengan dunia luar terjadi dengan seorang misionaris bernama Adrianvander Bijl,tepatnya pada tahun 1963, merupakan kontak pertama orang Nduga dengan dunia luar.
Motivasi awal perubahan budaya orang Nduga, terjadi ketika orang Nduga merasa tertarik dengan benda-benda logam seperti kapak, parang, pacul, dan skop sebagai tanda awal terjadinya kontak dengan dunia luar. Selain itu para pendatang juga memperkenalkan alat masak seperti garam, kuali dan lain-lain, kepada masyarakat setempat. Dan pada saat itu muncullah istilah tuan “loro nap”. Sejak itulah para misionaris mulai memperkealkan budaya baru.
Kini “budaya” orang Nduga tiba di mana ? “kebingungan” [1990-2000-an]
Dulu sebelum agama Kristen Protestan masuk ke daerah Suku Nduga, orang Nduga hidup dalam ikatan adat yang sangat kental. Tidak dapat dipungkiri bahwa kini zaman telah berubah, sehingga semua lini kehidupan manusia pun ikut berubah.
Perubahan zaman yang berdampak pada kehilangan eksistensi budaya dan norma-norma adat menurut Yakobus F. Dumupa [2006] dalam buku Berburu Keadilan di Papua Barat, Mengungkap Dosa-dosa Politik Indonesia di Papua Barat, disebut “penyakit sosial” yang dikirim oleh Indonesia tanpa kendali.
Beberapa “penyakit sosial” itu diantaranya seperti, lupa adat dan lupa diri, KKN tumbuh dengan pesat, perebutan jabatan, induvidualisme, pelacuran, budaya malas kerja, mabuk-mabukan dan kriminalitas, maraknya ijazah dan gelar palsu, bergaya hidup mewah, budaya proposal.
Kini menurut hemat saya [Frengki Gwijangge], semua kekayaan kebudayaan, nilai-nilai hidup budaya orang Nduga yang pernah ada dan yang menghantar manusia Nduga sampai pada saat ini telah hilang. Penyebabnya adalah kita [generasi sekarang], telah mengidap virus “ikut-ikutan”, kemudian kitalah yang menghakimi budaya kita sendiri dengan dalil budaya itu, “kuno, ketinggalan, tradisional, kampungan, primitif, masa bodoh, zaman batu” dan sebagainya dan seterusnya.
Disini diperlukan suatu kesadaran diri akan pentinnya, faktor budaya dalam segala aspek kehidupan manusia. Karena saat ini dimana-mana telah kehilangan jati diri sebagai manusia berbudaya, yang pernah ada yang dimiliki oleh setiap suku bangsa yang ada di belahan dunia manapun.
Lalu bagaimana dengan masa depan nilai-nilai unsur budaya Suku Nduga? Karena budaya adalah dasar hidup, ciri khas/ identitas, pedoman, sumber inspirasi dan lain sebagainya. Sebuah pertanyaan untuk kita [pelajar dan mahasiswa] adalah apakah kita ingin jadi pelestari budaya atau justru jadi pemusnah budaya? Karena mengangap budaya itu, “ketinggalan, kuno, tradisional, kampungan, primitive, ajaran zaman batu”, dan sebagainya dan seterusnya. Jawabanya kembali pada setiap insan sebagai orang yang menganut budaya itu apapun jenis suku dan budayanya.
Waje,Kwinik,Nimi,Nembera,Nowe,Nenggam Nowot Nit Nenangge Mende Mit Tak Pige Irige Noluk?
Tulisan ini tentu saja belum sempurnah, ole karena itu kepada pembaca suku Nduga penulis mohon masukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar