Oleh: Salomo Frengky Christyson GwijanggeI. LATAR BELAKANG
Perubahan dirasakan oleh hampir semua manusia dalam masyarakat. Perubahan dalam masyarakat tersebut wajar, mengingat manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas. kita akan dapat melihat perubahan itu setelah membandingkan keadaan pada beberapa waktu lalu dengan keadaan sekarang. Perubahan itu dapat terjadi di berbagai aspek kehidupan, seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, serta religi/keyakinan.
Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 1990).
Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial. Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat adalah sistem hubungan dalam arti hubungan antar organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan bukan warisan karena keturunan (Davis, 1960). Apabila diambil definisi kebudayaan menurut Taylor dalam Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, maka perubahan kebudayaan adalah segala perubahan yang mencakup unsur-unsur tersebut. Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu cara penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya.
Perkembangan dewasa ini menunjukan pada makin kuat dan cepatnya perubahan dalam segala bidang kehidupan, akibat dari efek globalisasi serta perkembangan teknologi informasi yang sangat akseleratif. Kondisi ini jelas telah mengakibatkan perlunya cara-cara baru dalam menyikapi semua yang terjadi agar dapat tetap survive. Penekanan akan makin pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu respon dalam menyikapi perubahan tersebut, dan ini tentu saja memerlukan upaya-upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM).
Sehubungan dengan itu peranan pendidikan di berbagai bentuk, jenis dan jenjang dalam memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi makin menonjol, karena hanya dengan pengetahuanlah semua perubahan yang terjadi dapat disikapi dengan tepat. Ini berarti pendidikan memainkan peran penting dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan kompetitif. Ketatnya kompetisi secara global dalam segala bidang telah menjadikan organisasi masyarakat memikirkan kembali strategi adaptasi, dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dengan penguasaan pengetahuannya menjadi pilihan penting yang harus dilakukan dalam konteks tersebut.
Pengetahuan telah menjadi sesuatu yang sangat menentukan, oleh karena itu perolehan dan pemanfaatannya perlu dikelola dengan baik dalam konteks peningkatan kinerja organisasi. Langkah ini dipandang sebagai sesuatu yang sangat strategis dalam menghadapi persaingan yang mengglobal, sehingga pengabaiannya akan merupakan suatu bencana bagi dunia kehidupan, oleh karena itu diperlukan cara yang dapat mengintegrasikan pengetahuan itu dalam kerangka pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam organisasi. Dari sinilah istilah manajemen pengetahuan berkembang sebagai suatu bagian penting dan strategis dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) pada organisasi.
Kita sering mendengar slogan “Pemuda harapan bangsa” atau “Maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada pemudanya”. Mahasiswa adalah bagian pemuda yang selalu ditunggu perannya dalam pembangunan. Mahasiswa adalah sekumpulan elemen unik yang ditempatkan dalam posisi ideal dalam masyarakat. Mahasiswa memiliki kompetensi teoritis dan praktis sehingga membawanya pada sebuah identitas intelektual yang memiliki pengaruh dalam setiap perubahan sosial. Pertanyaannya adalah, apa sajakah peran mahasiswa dalam membangun masyarakat.
Dalam ranah pembangunan, mahasiswa adalah kalangan yang memiliki potensi besar melakukan mobilitas. Bahkan, hal itu sudah dilakukan semenjak mereka resmi memiliki status sebagai mahasiswa karena status itu termasuk kelas menengah. Mahasiswa diharapkan oleh masyarakat untuk kembali dan membangun masyarakat suku dan bangsanya, khususnya di daerah mereka berasal. Mahasiswa yang merantau seolah-olah menjadi perwakilan daerah untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin yang kemudian diterapkan dalam pembangunan daerahnya suatu saat nanti. Peran mahasiswa sebagai agen pembangunan daerah merupakan salah satu peran yang diharapkan bisa dijalankan para mahasiswa, meskipun realitas mahasiswa zaman sekarang yang tak sedikit menghabiskan masa studinya dengan hura-hura atau bersenang-senang.
Sebenarnya, apa saja peran mahasiswa yang bisa dimainkannya dalam pembangunan daerah? Pertama, kita dapat melihat potensi mahasiswa dari aspek karakter mahasiswa. Kita memahami, mahasiswa memiliki watak idealis. Semua hal dilihat dan ingin dibentuk dalam tataran ideal. Baik dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri, keorganisasian, berbagai sistem, dan kebijakan dalam masyarakat maupun kehidupan Bangsa dan bernegara. Mahasiswa biasanya menjadi orang yang paling resah atas ketidakberesan, ketidakadilan, serta menginginkan tegaknya aturan dan norma kebaikan.
Dengan begitu, tepatlah manakala mahasiswa disebut sebagai agen kontrol sosial (social control), mengkritisi setiap ketidakberesan sistem di dalam kehidupan masyarakat maupun bangsa dan negara. Kedua, pemuda memiliki karakter pemikiran yang kritis dan kreatif. Mahasiswa sebagai bagian dari pemuda tak lepas dari sifat ini. Sejarah mengatakan, perubahan-perubahan besar berawal dari para pemuda. Kita dapat melihat bagaimana peristiwa Kebangkitan Nasional Indonesia, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, serta reformasi semua tidak luput dari peran para pemuda. Begitu pun dengan berbagai proses perubahan, revolusi dan pembaruan di belahan dunia lainnya.
Kaum muda memiliki frame berpikir yang khas. Berawal dari idealismenya, dia kritis terhadap persoalan-persoalan. Dengan kreativitasnya, dia menawarkan solusi-solusi atas berbagai persoalan yang ada. Tak jarang solusi yang mereka hasilkan merupakan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya oleh generasi yang lebih tua. Banyak terobosan baru yang mereka lahirkan, karena mereka punya paradigma berpikir yang berbeda, bahkan terjadi konflik pemikiran antara paradigma lama dan paradigma baru.
Kita dapat ambil contoh perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda dalam merumuskan kapan pelaksanaan proklamasi merdekaan Indonesia. Dengan dua karakter dasar diatas, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan di daerahnya.
Apabila kita melihat film-film action hero yang diadaptasi dari buku-buku komik karya sineas holywood, maka begitulah kira-kira bentuk hubungan antara mahasiswa dan perjalanan sejarah bangsanya. Mahasiswa selalu hadir di saat bangsanya ada dalam posisi genting, terdesak, dan terancam eksistensinya. Layaknya pahlawan super hero yang menyelamatkan penduduk dari ancaman kejahatan para begundal yang mengganggu mereka.
Dalam konteks Nduga dan Papua, maka analogi di atas berarti mahasiswa adalah barisan golden generations yang siap melahirkan perubahan demi perubahan bagi suku dan bangsanya dalam koridor mewujudkan cita-cita dan tujuan Papua merdeka dalam segala sektor kehidupan dari lingkaran setan, serta menjaga eksistensi bangsa dari setiap usaha-usaha yang berusaha mengingkari cita-cita dan tujuan nasional tersebut yang merupakan kontrak sosial dasar terbentuknya bangsa Papua.
Dengan demikian, mahasiswa harus menjadi man of idea yang memberikan gambaran visi tentang masa depan bangsa, sekaligus menjadi creative minority yang melahirkan inovasi-inovasi di tengah kejumudan bangsa dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan kehidupan berbangsa. Mahasiswa menghadirkan gagasan dan nilai-nilai pembaharuan sebagai semangat zaman baru ke tengah masyarakat, yang merupakan hasil pembacaan terhadap tanda-tanda zaman yang terus bergerak. Gagasan dan nilai-nilai Ini merupakan modal utama bagi mahasiswa untuk merekayasa sebuah perubahan sosial, karena pada dasarnya perjuangan mahasiswa bukan merupakan perjuangan untuk kekuasaan un sich, melainkan menegakkan gagasan dan nilai-nilai pembaharuan tadi untuk menggantikan status quo yang sudah tidak relevan lagi dengan zamannya.
Sebagai contoh gerakan kebangkitan nasional 1908, para mahasiswa pada waktu itu dapat menangkap semangat zaman yang dihasilkan oleh politik etis Belanda, dimana pendidikan telah melahirkan kesadaran massa mengenai kesamaan nasib mereka yang dijajah dan mampu untuk dirasionalisasikan lewat gerakan-gerakan organisasi yang menuntut untuk diakuinya hak-hak penduduk pribumi. Pada gerakan pemuda 1928, isu mereka sudah beralih pada isu persatuan nasional yang mampu merasionalisasikan keberagaman yang terdapat pada Hindia-Belanda menjadi sebuah entitas politik, satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa yang bernama Indonesia.
Kemudian, gerakan mahasiswa 1945, meskipun tidak terlalu menonjol dalam sejarah namun peranan mereka tidak bisa diabaikan begitu saja. Mereka memperjuangkan sebuah gagasan dan nilai luhur mengenai sakralnya kemerdekaan bagi bangsa mereka, sehingga kemerdekaan itu harus direbut, bukan hadiah dari bangsa lain. Akibatnya terjadilah peristiwa Rengasdengklok yang memaksa Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamirkan kemederkaan agar tidak terkesan kemerdekaan nantinya adalah pemberian Jepang.
Gerakan mahasiswa 1966 memperjuangkan gagasan dan nilai mengenai anti kediktatoran, anti kemiskinan, anti komunisme yang kesemua hal itu jelas bertentangan dengan tatanan kebangsaan Indonesia yang tercantum pada Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Rasionalisasi gerakan tersebut ialah dengan mengganti kepemimpinan nasional serta melahirkan pembangunan sebagai semangat zaman yang menjanjikan kesejahteraan ekonomi bagi rakyat Indonesia dan kehidupan politik yang lebih demokratis.
Namun, apa yang diperjuangkan oleh gerakan mahasiswa pada 1966 tersebut ternyata tidak menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan, kecuali memang ada sedikit perbaikan di sektor ekenomi, pemerintahan Orde Baru malah memerankan kediktaktoran yang jauh lebih ganas daripada pendahulunya. Itulah yang dijadikan tema perlawanan oleh gerakan mahasiswa 1974, 1978, dan sampai pada puncaknya pada 1998. Mereka memperjuangkan tatanan nilai untuk menghapus rezim yang korup (KKN), anti HAM, serta anti demokrasi, dan melahirkan reformasi sebagai semangat zaman yang akan mengawal perubahan yang mereka aspirasikan.
Berdasarkan penjelasan diatas sudah jelas bahwa sejarah pergerakan Indonesia adalah sejarah pergerakan mahasiswa (karena pemuda pada waktu itu yang memiliki kesadaran untuk menggalang pergerakan perlawanan adalah pemuda-pemuda terdidik dan mahasiswa). Sehingga kita sebagai pemuda dan mahasiswa suku Nduga dan bangsa Papua hari ini memiliki tanggungjawab dan beban sejarah untuk meneladani misi dan tugas yang telah diwariskan oleh pemuda-pemuda Indonesia terdahulu kepada pemuda dan mahasiswa Indonesia zaman ini untuk melakukan perubahan menghadapi keadaan suku Nduga dan bangsa Papua saat ini.
Ada dua kesamaan kata kunci strategi yang dipakai oleh gerakan mahasiswa dalam perjuangannya, yaitu organisasi dan radikalisasi. Organisasi berfungsi sebagai wadah pemersatu elemen-elemen perjuangan baik itu berupa orang, sumber daya, maupun strategi, untuk menjadi satu kesatuan kekuatan yang utuh dan tidak tercerai-berai, memiliki visi yang sama dan memiliki manajemen dalam melakukan perlawanan.
Radikalisasi adalah menanamkan tatanan gagasan dan nilai-nilai demi pembentukan karakter dalam perjuangan mahasiswa, karena perjuangan mahasiswa akan vis a vis dengan status quo. Namun radikaliasai di sini tidak selalu identik dengan kekerasan semata, kekerasan hanya merupakan ekses dari perlawanan yang bersentuhan langsung dengan kekuatan status quo yang tidak ingin ada perubahan. Radikalisasi yang dimaksud lebih pada tatanan nilai yang merupakan hasil pemikiran yang ada di luar mainstream pada saat itu dan juga merupakan solusi sekaligus proyeksi terhadap permasalahan, serta mampu menggerakkan alam kebatinan rakyat untuk sadar dan mau bergerak untuk merubah kondisi yang ada pada saat itu. Karena jelas gagasan adalah alat yang paling efektif dalam melakukan perlawanan.
Karena, pada dasarnya rakyat bukan tidak merasakan atau tidak tahu mengenai kondisi kehidupannya sendiri, namun mereka tidak mampu memformulasikan pandangannya tersebut ke dalam sebuah gagasan dan nilai, mereka hanya sampai pada tahap mengeluh sebagai korban dari ketidakadilan atas apa yang mereka rasakan. Peran gerakan mahasiswa dalam hal inilah menangkap keresahan-keresahan tersebut, kemudian memformulasikannya ke dalam sebuah gagasan dan nilai yang menjadi dasar dari perjuangan mereka menciptakan perubahan sosial dalam memajukan dan membangun peradaban suku dan bangsa yang berkualitas dan bermartabat.
Dengan berbekal kekuatan gagasan dan nilai tersebut, gerakan mahasiswa menjadi kekuatan pelopor dan pemimpin perubahan yang mampu menggerakan setiap sumber daya yang ada untuk mendukung gerakan mahasiswa serta melakukan perlawanan terhadap ketiakadilan tersebut. Dengan begitu, radikalisasi gerakan mahasiswa berfungsi sebagai pemicu sekaligus martir untuk memulai sebuah perubahan, yang merupakan pra kondisi sebelum terjadi gerakan sosial dalam skala yang lebih besar ketika rakyat sudah ikut bergerak untuk menciptakan perubahan sosial.
Karena rumus peradaban sudah tertulis bahwa tidak mungkin ada perubahan tanpa perlawanan, tidak mungkin ada perlawanan tanpa pemimpin, dan tidak mungkin ada pemimpin perubahan yang tidak radikal.
Diatas kita sudah melihat betapa vitalnya peranan gerakan mahasiswa bagi bangsa Indonesia. Pertanyaan besarnya, apa logika yang berkerja di balik terciptanya peran tersebut. Mahasiswa merupakan entitas yang istimewa di dalam struktur masyarakat Indonesia, mereka adalah golongan terpelajar, yang masih kecil kuantitas serta kualitasnya di Indonesia. hal ini menjadikan mahasiswa termasuk dalam kelompok elite di dalam masyarakat yang memiliki akses terhadap sumber daya politik, ekonomi, intelektual.
Konsekuensi dari luasnya ilmu pengetahuan dan wawasan yang dikuasainya, menjadikan mahasiswa merupakan kelompok yang tercerahkan yang memiliki kesadaran kritis terhadap lingkungan di sekitar mereka. kesadaran ini mendorong mahasiswa memenuhi panggilan sejarah peradaban, untuk melanjutkan misi-misi kenabian (misi profetik), yaitu sebuah tradisi progressif untuk mendorong perubahan struktural guna mewujudkan peradaban manusia untuk menjadi lebih adil dan sejahtera serta membebaskan manusia dari segala problematikanya.
Kombinasi kedua hal diatas mengubah mahasiswa sebagai intelektual organik, yaitu sebagai agen perubahan sosial yang tidak saja berkutat di menara gading sebagai pengamat dan penghasil teori sosial belaka, namun turut serta berproses dalam menggagas, merekayasa, dan melaksanakan perubahan sosial itu sendiri. Mereka bersentuhan dengan realitas sosial, mampu mencerahkan kehidupan manusia lainnya dengan berperan sebagai problem solver dan inovator peradaban. Dengan demikian, tidak mengherankan bila mahasiswa merupakan duta masa depan, karena secara tidak langsung dalam konteks Indonesia, mahasiswa adalah agen sejarah yang selalu melahirkan gagasan dan nilai yang menggerakan perubahan demi perubahan di tengah zaman yang terus bergerak.
Pertanyaan berikutnya bagaimana menghasilkan mahasiwa-mahasiswa yang mampu melakukan hal-hal tersebut? karena karakter mahasiswa yang demikian itu bukan merupakan sesuatu yang taken for granted melainkan sesuatu yang dihasilkan melalui proses yang panjang.
Ada tiga pilar utama yang menentukan eksistensi dan superioritas suatu bangsa di dunia ini. Pertama, Keyakinan atau pandangan bangsa itu tentang kekuatan dan keunggulan bangsa tersebut atas bangsa lain. Kedua, kemampuan bangsa tersebut dalam menginterprestasikan secara intelektual dan saintifik atas keyakinan tersebut dalam realitas kehidupan. Ketiga, adanya manusia par excellence yang berani dan cerdas untuk mendasarkan hidupnya atas keyakinan tersebut secara penuh dan komprehensif.
Bangsa Indonesia sudah memiliki Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 sebagai tatanan nilai yang diyakini menjadi visi masa depan bangsa. Bangsa Indonesia juga mengembangkan sistem pendidikan yang menghasilkan para intelektual dan cendekiawan yang berusaha mengembangkan dan menderivasikan nilai-nilai tersebut kedalam tataran praktis kehidupan masyarakat. Pilar ketiga merupakan pilar terpenting, dimana keyakinan normative tersebut bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan melalui orang-orang yang mempercayainya dan mengamalkannya dalam kehidupan. Karena sebaik apa pun nilai tidak akan berguna bila tidak ada manusia yang mengamalkannya.
Persoalan ini dijawab oleh proses perkaderan yang dilakukan oleh (salah satunya) organisasi pergerakan mahasiswa yang menginisiasi mahasiswa dengan ideologi, metodologi, strategi perjuangan. Sehingga hasilnya mereka adalah manusia-manusia yang siap untuk selalu memikirkan nasib bangsanya, dengan segenap sumber daya yang dimiliki baik itu pemikiran, ilmu pengetahuan, materi, bahkan nyawanya sendiri.
Seperti halnya yang dilakukan oleh founding father bangsa Indonesia, mereka mengorbankan masa muda, waktu, harta benda hingga kepentingan-kepentingan pribadi demi perjuangan mewujudkan kemerdekaan untuk tanah air dan bangsa Indonesian tercinta. Inilah sesungguhnya fungsi terpenting dari organisasi pergerakan mahasiswa yaitu mendidik, mempersiapkan kader-kader untuk siap menjadi manusia-manusia pilihan yang mampu mewujudkan peradaban bangsa yang unggul.
Di tengah semakin masifnya kebudayaan hedon di kalangan pemuda dan mahasiswa Nduga dan Papua, di saat yang bersamaan organisasi pergerakan mahasiswa juga dihadapkan pada masalah kebangsaan yang begitu pelik, dimulai dari kemisikinan, pengangguran, kesehatan dan pendidikan yang semakin tidak terjangkau rakyat, korupsi yang menjadi virus peradaban, liberalisasi ekonomi dan politik dan yang paling mengancam adalah GENOSIDA.
Ini merupakan tantangan yang harus segera dipecahkan karena di satu sisi semakin sulit mendapatkan Sumber Daya Mahasiswa (SDM) yang berkualitas dan berkarakter namun di sisi lain, tanah air sudah memanggil mahasiwa untuk segera menunaikan tugasnya. Ini merupakan tantangan yang harus segera dicarikan jalan keluarnya bila tidak ingin eksistensi organisasi pergerakan mahasiswa segera ditinggalkan oleh zaman. karena apabila pemuda dan mahasiswa sebagai generasi muda suku Nduga dan bangsa Papua “tertidur”, alamat nasib suku Nduga dan bangsa Papua akan jauh “terkubur” di bawah deru zaman yang semakin maju melangkah ke ke depan, meninggalkan suku Nduga dan bangsa Papua dalam kemelaratan, kebodohan, kehancuran dan kepunahan.
Berdasarkan hal-hal diatas maka sudah saatnya Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga memperjuangkan wacana nasionalisme progessif sebagai dasar dalam mengambil peran-peran kebangsaannya. Adapun yang dimaksud dengan nasionalisme progessif adalah nasionalisme yang berlandaskan pada penerapan solidaritas dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa melalui pendekatan kesejahteraan dengan melindungi kepentingan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Papua. Sehingga Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga dan bangsa Papua tetap memiliki pedoman yang jelas dalam membangun arah peradaban suku Nduga dan bangsa Papua dimasa mendatang, sekaligus mampu menetralisir pengaruh-pengaruh ideologi dan kepentingan asing di Ndugama dan Papua.
Perubahan sosial yang terus terjadi seiring dengan perkembangan peradaban bangsa-bangsa didunia dan bangsa Papua Serta Suku Nduga, tentu saja memiliki implikasi bagi tumbuh kembangnya Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga di dunia pergerakan pemuda dan mahasiswa. Terlebih lagi bagi Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga yang sudah mencapai titik Ketidakjelasan, Perpecahan Dan jenuhnya dalam berorganisasi selama masa orde baru dan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 yang mengatur tentang otonomi Khusus bagi Papua, Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga berada dalam comfort zone di lingkungan elite dan kekuasaan. Padahal peran pergerakan pemuda dan mahasiswa yang utama adalah untuk melakukan perubahan, pembaharuan dan pembangunan di dalam masyarakat. Dan Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga dalam hal ini telah kehilangan sentuhan tradisinya untuk melakukan hal tersebut karena kegiatan perkaderan organisasi telah kehilangan roh kekritisan dan progressifitasnya, dan berubah menjadi kegiatan rutin belaka.
Oleh karena itu, kemampuan organisasi untuk beradaptasi dan membaca arus zaman harus menjadi ujung tombak metodologi gerakan agar dapat terus menjaga eksistensi sistem perkaderan dan pencapaian misinya. Bila pedoman-pedoman organisasi, nilai-nilai dasar perjuangan, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sekadar dimaknai sebagai dokumen tanpa makna dan tafsir sebagai roh untuk mencapai tujuan besar organisasi, maka telah sampailah organisasi pergerakan tersebut kepada titik nadi roh perjuangannya. Ironisnya gejala-gejala tersebut sedang terjadi di dalam Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga.
Oleh karena itu, cerita soal kebesaran masa lalu dan sistem senioritas menjadi hukum tidak tertulis namun telah menjadi panduan baku bagi kader dan seolah menjadi dogma yang merasuki dan menghantui tiap kader, sehingga kreatifitas kader untuk melakukan perubahan, pembaharuan dan pembangunan terbelenggu oleh beban sejarah. Karena itu, apabila Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga ingin kembali ke jalurnya, maka Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga perlu melakukan perubahan subtansial ataupun redaksional dan penyegaran orientasi aktifitas organisasinya sebagai organisasi pergerakan yang radikal.
Sehubungan dengan itu, buku ini mencoba menjadi panduan untuk menjelaskan tentang bagaimana rancangan strategi pembenahan Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga dalam mengimplementasikan misinya dalam konteks berorganisasi, bermasyarakat dan berbangsa yang mana akan dilangsungkannya dalam kongres Nasional I Organisais Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia pada tanggal 27-31 Desember 2010 di Jayapura-Papua.
Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga harus melandaskan diri pada sistem nilai dalam pergerakannya, yaitu landasan nilai yang sifatnya politis, landasan nilai yang sifatnya ideologis dan landasan nilai yang sifatnya sosiologis. Landasan nilai politis Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga sesuai dengan apa yang tercantum pada tujuan organisasinya, namun dalam ini landasan nilai politis tidak berarti kekuasaan, tetapi ini adalah politik Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga untuk menyumbangkan segala daya dan usaha aktifitas organisasinya untuk menciptakan peradaban yang lebih baik bagi suku Nduga dan bangsa Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan sesuai dengan nilai-nilai pancasila.
Landasan nilai ideologis Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga sudah tentu adalah yang tercantum pada Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang merupakan usaha dari Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga dalam merangkum dan merumuskan nilai-nilai yang terkandung di dalam agama dan adat untuk dijadikan pedoman mereka untuk mewujudkan misi dan tujuan organisasi. Bila landasan nilai politis dan landasan nilai ideologis itu tercantum secara formal di dalam konstitusi Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga, maka landasan ketiga yaitu landasan nilai sosiologis, yang lahir dari situasi budaya dan aktifitas Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga dalam mewujudkan misinya. Kultur di dalam Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga ini membentuk nilai-nilai fundamental yang berfungsi membentuk karakter kader-kader Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga, dan juga menjadi solidarity value dari keberagaman yang ada di Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga. Nilai-nilai fundamental yang dimiliki oleh Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kebenaran
2. Kebebasan intelektual
3. Inklusifitas
4. Pluralisme
5. Idea of progress
6. Academic excelent (rasional, objektif, kritis, ilmiah, dan professional)
7. Intregitas kader (mandiri, bertanggungjawab, jujur dan adil)
8. Persaudaraan dan kemanusiaan
9. Keberpihakan kepada rakyat jelata (pihak yang tertindas)
10. Independen
Ketiga landasan perjuangan di atas harus diderivasikan menjadi strategi organisasi ketika menghadapi realitas di dalam masyarakat. Strategi tersebut harus berhubungan dengan tiga ranah aktifitas Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga yaitu ranah organisasi, ranah intelektual, dan ranah kebangsaan. Dan untuk itu dalam kongres Nasional I Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia ini akan menyusun dan menerapkan paradigma baru strategi implementasi misi Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga yang bergerak di ranah intelektual dan kebangsaan berupa gerakan pembaharuan, di ranah keorganisasian berupa penerapan manajemen strategis, dan di ranah kebangsaan berupa wacana nasionalisme progressif.
kefakuman aktifitas Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga, sedikit demi sedikit telah membuat Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga kehilangan orientasi dalam mengejar pencapaian misi organisasinya. Akibatnya Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga selalu terlambat untuk mengantisipasi perubahan zaman baik dalam persoalan day to day politics hingga masalah perumusan masa depan peradaban suku dan bangsa. Untuk itu, diperlukan penyegaran sistem organisasi yang dapat memberikan Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga sebuah early warning system sebagai respon kontemporer terhadap situasi dan kondisi internal maupun eksternal. Kemunduran Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga disebabkan karena Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga gagal untuk mengambil peran-peran serta posisi yang strategis untuk dapat memimpin perubahan yang terjadi di masyarakat. Setidaknya Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga selama ini hanya berfungsi sebagai pengikut dalam arus perubahan, belum mengendalikan perubahan tersebut.
Manajemen modern memberikan solusi bagi permasalahan organisasi seperti yang dihadapi oleh Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga, yaitu melalui penerapan manajemen strategis yang melibatkan perencanaan strategis organisasi sebagai mekanisme organisasi untuk menetapkan dasar pijakan, arah dan strategi organisasi menghadapi keadaan zaman yang penuh dengan kompetisi, penuh dengan ketidakpastian, dan penuh dengan resiko.
Sistem nilai Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga yang berpedoman pada nilai dasar perjuangan (ideologis), nilai-nilai fundamental (sosiologis), dan misi (politis) harus bisa diderivasi ke level implementasi di lapangan, dan ini membutuhkan fleksibelitas kerja manajemen yang mampu sigap dan tanggap dan tidak gagap menghadapi keadaan kontemporer yang selalu berubah, dengan begitu Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga selalu dapat mengambil posisi dan peran yang strategis dalam perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat suku Nduga dan bangsa Papua tersebut. Ini dikarenakan Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga telah memiliki blue print yang jelas mengenai apa yang akan dilakukan, dan langkah apa yang harus dilakukan bila hal yang direncanakan tidak bisa di implementasikan di lapangan.
Logika dasar dari perencanaan strategis adalah, dalam lingkungan dunia yang berubah secara pesat dan tak menentu, suatu organisasi memerlukan kemampuan untuk melakukan perubahan subtansial maupun redaksional serta rencana dan manajemen dengan tepat. Maka, kemampuan untuk senantiasa melakukan penangkapan lingkungan eksternal dari organisasi, serta upaya terus-menerus senantiasa melakukan penelaahan kemampuan dan kelemahan organisasi internal menjadi prasyarat bagi organisasi untuk tetap strategis. Dengan kata lain perencanaan startegik merupakan analisa sistematis dan perumusan sasaran ke depan, mengenai respon-respon dan pilihan-pilihan, serta pemilihan optimal dan penetapan instruksi-instruksi untuk mengimplementasikannya secara rasional dalam organisasi.
Dengan demikian perencanaan strategi berangkat dari tujuan, misi dan visi, mandat dan nilai-nilai yang menjadi dasar suatu organisasi untuk berkembang menjadi visi organisasi di masa mendatang. Proses analisis yang mengaitkan antara misi dan visi, serta perkembangan lingkungan eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal ini akan membawa organisasi menemukan arah menuju yang paling strategis dan paling efektif.
Manfaat manajemen startegik bagi organisasi sosial adalah sebagai berikut:
- Perannya sangat berarti dalam membantu organisasi untuk menetapkan isu strategis yang perlu, dan relevan untuk diperjuangkan. Sementara banyak organisasi sosial tidak mampu menetapkan isu-isu strategis sehingga perjalanan organisasi bersifat rutin ataupun reaktif.
- Perencanaan strategis bermanfaat untuk menyadarkan terhadap keseluruhan anggota ataupun stakeholder seluruh organisasi mengenai visi, misi, mandat, serta nilai-nilai yang dianut oleh organisasi. Hal ini penting untuk menghindari organisasi tanpa kejelasan visi dan misi, atau hanya sebagian kecil elit organisasi yang mengerti dan memahami visi dan misi organisasi, sementara sebagian besar anggota tidak memahami atau tidak terlibat penetapannya.
- Organisasi sosial yang memiliki perencanaan strategis tidak hanya akan mampu membantu organisasi itu tetap relevan dengan perubahan lingkungan sosial politik, namun bahkan mampu mempengaruhi, mengarahkan, dan membentuk sistem sosial, politik, dan ekonomi yang sesuai dengan visi dan misi organisasi.
- Konsolidasi organisasi secara berkala, yang akan membawa pada suasana meningkatnya partisipasi keseluruhan anggota dalam proses pengambilan keputusan yang mendasar, serta menghindarkan terjadinya proses alienasi bagi elite organisasi terhadap masa anggotanya.
Sudah menjadi fitrah bagi Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga untuk terus melahirkan generasi manusia-manusia Nduga-Papua yang memiliki kualitas dan kompetensi untuk memimpin suku Nduga dan bangsa Papua dari masa ke masa. Oleh karena itu Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga harus mampu selalu memberikan gagasan, ide, serta konsep untuk terus melakukan perubahan, pembaharuan dan pembangunan untuk menciptakan peradaban Suku Nduga dan Bangsa Papua yang lebih baik. Untuk itu, diperlukan strategi yang tepat serta kemampuan dalam menangkap semangat zaman sebagai modal utama Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga dalam mempertahankan posisi dan peran strategisnya sebagai organisasi independen pada kehidupan kesukuan dan kebangsaan. Inilah tugas mahasiswa sebagai generasi yang sedang memangku amanah di setiap level Organisasi Pelajar dan Mahasiswa di Kalangan Komunitas Pelajar Dan Mahasiswa Nduga untuk berjuang memikirkan strategi guna mengimplementasikan misi organisasi yang compatible dengan zamannya.
Manusia adalah salah satu makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling mulia dibanding dengan ciptaan yang lainnya karena dibekali tubuh, jiwa dan roh untuk membedakan mana baik, buruk, benar dan salah berdasarkan nilai-nilai logika, etika dan estetika.Dalam batas waktu kehidupan manusia yang amat sangat singkat ini, Setiap manusia normal yang dibekali tubuh, jiwa dan roh untuk membedakan mana baik, buruk, benar dan salah berdasarkan nilai-nilai logika, etika dan estetika menghendaki hidupnya adil, makmur, sejahtera, bahagia, panjang umur, dan bahkan hidup kekal (mendekati atau ciptakan surga di bumi) walau disadari kehendaknya/keinginannya bertentangan dengan kodrat yang digariskan sang pencipta jagad raya ini.bukti perwujudan cita-cita hidup yang bahagia, manusia secara individu maupun kelompok menetapkan ideologi, filsafat hidup, prinsip hidup, orientasi hidup, motto hidup dan lain-lain yang dapat mengantarkannya pada cita-cita yang ditetapkan secara lisan maupun tertulis atas konsensus sosial.
Mengamati realitas kehidupan manusia di bawah matahari secara saksama, kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan perjalanan.kelahiran adalah awal dari perjalanan, kenyataan hidup adalah pertengahan perjalanan dan kematian adalah akhir dari perjalanan hidup.perjalanan yang penuh dengan halangan, rintangan dan tantangan dari lingkungan hidup baik dari manusia lain maupun alam yang membutuhkan perjuangan jika ingin tetap bertahan hidup.Di dalam kehidupan manusia yang seperti perjalanan ini, hanya ada tiga bentuk waktu yaitu masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang.Peningkatan Kualitas kehidupan manusia dalam masyarakat suatu bangsa dari waktu ke waktu dan dari generasi yang satu kepada generasi yang lain sebenarnya merupakan membangun peradaban.oleh karenanya, yang menjadi kata kunci peningkatan kelas peradaban dalam masyarakat suatu bangsa adalah “Perubahan” atau “Change” ke arah gradasi dari kelas atau taraf kehidupan sebelumnya. Untuk mewujudkannya menetapkan ideologi, filsafat hidup, prinsip hidup, orientasi hidup, motto hidup dan lain-lain sebagai alat pengantar hidup bahagia. Sederhananya, menetapkan orientasi hidup secara jelas yaitu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari besok harus lebih baik dari hari ini.
Sejak dari awal sejarahnya, manusia diancam lingkungan hidupnya, baik oleh manusia lain maupun alam dunia luarnya.ancaman dari manusia lain berupa sengketa perebutan tanah, pemisahan kelas ekonomi antara yang kaya dan yang miskin, antara tuan dan budak, penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah dan lain sebagainya.tantangan dari lingkungan alam berupa iklim, perairan, tanah, hutan, yang harus dijawabnya dengan akalnya.bekal-bekal bagi kemenangan atas lingkungannya berupa pengetahuan mengenai posisinya di dalam alam, pengertian tentang tabiat alam sendiri serta alat-alat yang dibuatnya untuk mempertahankan diri dan memenuhi berbagai kebutuhannya.tepatlah apa yang dikatakan oleh filsuf-sejarawan toynbee bahwa keharusan manusia untuk menjawab semua tantangan dari lingkungannya itu merupakan salah satu dorongan yang sangat penting bagi perkembangan peradabannya.
Penjajahan manusia atas manusia yang lain ternyata tidak berhenti bersama munculnya negara-negara merdeka sehabis perang dunia kedua yang lalu.kesadaran pada manusia bahwa ia sama dengan yang lain, tak peduli perbedaan ras, agama ataupun sekse, semakin meluas.dalam proses dekolonisasi selama ini, ternyata perbedaan ekonomi dunia semakin jelas; jurang antara pihak yang kaya dan yang miskin menganga lebar, sedangkan segala ketegangan yang mendampinginya sulit didamaikan.jika manusia ingin mencegah terjadinya katastropa mondiat perlu diusahakan kehidupan yang seimbang dalam satu dunia.
Pada awal perkembangan zaman, manusia adalah makhluk individu.Dengan bertambahnya manusia dan tuntutan hidup dalam bermasyarakat, manusia mulai merasakan perlunya ber-organisasi karena adanya tujuan dan cita - cita yang sama. Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Manajemen adalah suatu kegiatan organisasi. Sebagai suatu usaha dari kelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu yang ditaati sedemikian rupa, sehingga diharapkan hasil yang akan dicapai sempurna, yaitu efektif dan efisien.
Tuhan telah menciptakan langit, bumi, beserta segala isinya dengan maksud dan tujuannya masing-masing.Tuhan menciptakan satu manusia namun dengan terjadi ataupun dijadikan-Nya segala perbedaan, seperti warnah kulit, rambut, bahasa dan lain-lain itupun ada maksud dan tujuan-Nya masing-masing pula.hanya saja manusia yang kadang tidak menyelami maksud dan tujuan tersebut serta hakekat manusia dan kehidupannya di dunia ini.Semuanya dilakukan Tuhan dengan maksud dan tujuan agar kasih mendapatkan tempat. Dengan pengakuan mensyukuri Perbedaan yang adalah aset yang paling berharga yang digunakan dalam mencapai tujuan bersama atas dasar kesadaran kesamaan hakekat dan nasib dalam menapaki kehidupan untuk menggapai kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagian hidup bersama dalam kehidupan, Sejarah perjalanan bangsa Indonesia sudah membuktikan bahwa nasionalisme merupakan alat perjuangan paling efektif dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. bukti dan fakta nyatanya adalah keberagaman yang hadir di bumi Indonesia ini dapat diikat oleh sebuah rasa solidaritas untuk menjadi satu kesatuan dalam sebuah bangsa yang mereka imajinasikan sebagai bangsa Indonesia. Rasa solidaritas yang terbangun atas kesamaan nasib menjadi korban penjajahan, menjadikan nasionalisme yang berkembang diawal kemerdekaan adalah nasionalisme yang bertumpu pada aspek politik dan aspek psikologis.
Pendekatan ini mengharapkan loyalitas penuh rakyat dalam satu-kesatuan teritorial wilayah kepada negara tanpa pamrih. Implementasi pendekatan ini berkembang pesat pada masa orde baru, ketika penguasa menggunakan slogan nasionalisme sebagai alat politik untuk menundukan lawan-lawan politiknya, rakyat yang tidak setuju terhadap kebijakan pemerintah, dan landasan pembenaran bagi semua kebijkan negara. Barang siapa yang ada dalam posisi tadi, maka ia akan dicap sebagai anasionalis yang berarti vis a vis dengan penguasa dan alat-alat negara seperti birokrasi POLRI dan TNI.
Ada dua hal penting yang terjadi akibat praktek tersebut. Pertama, arti nasionalisme menjadi sempit dan sekedar bersifat sloganistik karena tidak seimbangnya antara hak dan kewajiban dalam hubungan rakyat dan negara. Disatu sisi rakyat berkewajiban penuh untuk mentaati seluruh kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan oleh negara dan wajib siap untuk mengorbankan jiwa raganya demi keselamatan negara, namun disisi lain negara gagal melaksanakan kewajibannya untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Ini menunjukan nasionalisme yang hanya bertumpu pada pendekatan politik dan psikologis saja kontraproduktif dan berimplikasi negatif bagi tumbuh kembangnya rasa nasionalisme.
Kedua, nasionalisme di Indonesia mengalami involusi perannya bagi pembangunan peradaban Indonesia. bila diawal pembentukan nation state, nasionalisme pondasi bagi seluruh daya usaha membangun kerangka berbangsa dan bernegara. Namun dalam perjalanan berikutnya, peran nasionalisme terkikis dari mental pejabat negara, dampaknya pengelolaan negara tidak lagi menjadikan pencapain tujuan nasional sebagai arah pembangunan. Sebagai contoh timbulnya perselingkuhan antara penguasa dan penguasa, investor asing, membentuk jejaring KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang menghisap keuntungan negara ini. Bila dahulu pendiri negara ini berjuang melawan penjajahan asing, maka saat ini kita harus berjuang melawan pengkhianatan dari dalam, ketika secara tidak langsung ada sebagian kecil kelompok yang memiliki kelebihan sumber daya menjajah sesama saudara sebangsanya, baik itu melalui eksploitasi ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Pembukaan UUD 1945 adalah norma nilai tertinggi dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, sekaligus merupakan jati diri dan cita-cita peradaban Indonesia. Maka dari itu, apapun daya dan usaha pengelolaan negara tidak boleh bertentangan apalagi mengkhianatinya, karena, inilah karakter nasional yang membedakan Indonesia dengan bangsa lain dan yang menjadi alasan paling dasar kenapa beragam agama, suku, bahasa, serta kerajaan mau bersatu dan melahirkan bangsa dan negara Indonesia ini lahir diatas muka bumi pertiwi.
Salah satu akibat dari penjajahan adalah penindasan, eksploitasi yang memiskinkan bangsa ini, oleh karena itu kemerdekaan merupakan jembatan emas untuk meraih kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Wajar adanya apabila saat ini rakyat Indonesia kehilangan orientasi ideologis nasionalismenya karena memang kesejahteraan mereka tidak kunjung membaik, dengan kata lain kemerdekaan tidak memberikan peluang bagi mereka untuk meraih kesejahteraan yang didambakan atau dengan kata lain kemerdekaan belum memiliki arti secara ekonomis.
Nasionalisme Indonesia saat ini mau tidak mau dipertahankan oleh keajaiban rasa patriotik yang membuat rakyat merasa bangga untuk mengakui menjadi bagain dari sebuah bangsa dan negara yang bernama Indonesia dan tidak lebih dari itu. Fenomena ini tidak boleh berlanjut dan harus dihentikan, ditengah globalisasi yang membuat dunia ini flat dan borderless sangat rentan rasa patriotik tersebut luluh, dan individu-individu dari warga negara akan melakukan hal-hal yang merugikan kepentingan nasional, demi tawaran kesejahteraan dari pihak lain.
Terlalu banyak hal untuk dituliskan, untuk menggambarkan kebobrokan pengelolaan negara di berbagai bidang yang secara sengaja dan sadar merugikan negara. dan tindakan ini berakibat langsung pada atau menunjukan ketidakmampuan negara untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, dan ini berujung pada menurunkan rasa nasionalisme dari tiap individu-individu warga negara. kesimpulannya, kesejahteraan bagi rakyat adalah jawaban bagi manifestasi pembangunan peradaban dan pengikat solidaritas rasa nasionalisme di masa mendatang.namun sayang, burung garuda tidak kuasa menahan segala perbedaan yang dicengkramnya dengan slogan kosong Bhineka Tunggal Ika sebagai konsekwensi logis keboborokan para pengelola negara dalam mengisi kemerdekaan dan mengelola negara ini.
Yang menjadi alasan paling dasar kenapa beragam agama, suku, bahasa, serta kerajaan mau bersatu dan melahirkan bangsa ini lahir diatas muka bumi pertiwi adalah agar negara dapat menjamin kelangsungan hidup mereka bersama-sama dengan segala heterogenitas.kini, dalam mengisi kemerdekaan pengelola negara Indonesia yang dibangun atau didirikan oleh beragam agama, suku, bahasa, serta kerajaan dengan pengakuan rumah bersama, mendiskriminasi warga negaranya dalam memberi pelayanan publik.itu artinya sumpah pemuda hanya politik busuk suku Jawa agar pemuda dari seluruh penjuru tanah air yang sama-sama menjadi korban penjajahan kolonial yang sama agar dapat berkumpul dan mendirikan rumah yang bernama Indonesia bagi suku Jawa dan setelah rumah terbangun pada tanggal 17 Agustu 1945 yang lainnya yang diIndonesiakan menjadi budak yang harus membayar upeti setiap tahun secara periodik.Atas ketiknyamanan menghuni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bangsa-bangsa lain yang diIndonesiakan sudah mulai keluar dan menyatakan sikap bahwa ia sanggup hidup berdiri diatas tanah airnya sendiri tanpa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang telah kita saksikan bersama Timor-Timur dan mungkin berikutnya Aceh, Papua dan lain sebagainya yang sedang antri untuk keluar sambil menanti proses.
Sebagai bangsa Papua yang DibangsaIndonesiakan melalui aneksasi, Dengan merasakan, mengalami dan mengamati realitas kehidupan rakyat Papua masa kini dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adalah rumah rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, pertanyaan yang patut diajukan dan dicarikan jawabanya adalah:
1) Apakah negara Indonesia, fungsi negara Indonesia, tujuan negara Indonesia, dan manfaat negara Indonesia?
2) Mampukah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memberikan garansi hidup bagi warga negaranya lebih khusus bangsa Papua yang dianeksasikan dalam Bhineka Tunggal Ika?
3) Siapakah dan sebagai apakah saya di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas alangka baiknya objektif dengan jalan mengankat data dan fakta pelayanan negara kepada warga negaranya dari Sabang sampai Merauke. Dalam konteks Papua, Tidak dapat dipungkiri dan ditutup-tutupi lagi bahwa bangsa Papua sedang hidup dalam alam penindasan yang tidak mempunyai jaminan hidup diatas tanah Airnya sendiri.seluruh program dan kebijakan pembangunan berjangka pendek, menengah dan panjang yang diberikan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kepada bangsa Papua di negeri Papua berisi bom waktu dan racun yang “PASTI” mengantarkan bangsa Papua pada gerbang GENOSIDA.Dan yang akan tertinggal di atas tanah air tercinta Papua ini adalah histori bahwa bangsa kulit hitam pernah hidup diatas tanah ini.
Binatang.manusia golongan keempat.manusia sekelas kera.keturunan kera.Kera, kera, dan kera.itulah yang sering terdengar dalam diskusi bangsa kulit putih dan rambut lurus dalam menghina bangsa rambut keriting dan berkulit hitam di seluruh belahan benua di satu dunia ini dari zaman yang satu kepada zaman yang lain hingga kini diskusi tersebut masih terus berlanjut. Dalam konteks Indonesia adalah kepada bangsa Papua oleh Indonesia dengan Bertopengkan slogan kosong Bhinneka Tunggal Ika.
Walaupun bangsa Papua digolongkan sebagai manusia kelas empat atau kelas manusia sekelas “KERA” oleh saudara-saudara etnis lain yang sudah maju seribu langkah perawakan peradabannya termasuk Indonesia jika dibandingkan, bangsa Papua mengetahui, menyadari dan mengakui bahwa bangsanya adalah manusia sejati dan normal ras melanesia, bangsa Papua yang Tuhan tempatkan di tanah Papua untuk menikmati hidup dan memuliakan Nama-Nya.bangsa Papua menyadari eksistensi kelas peradaban dengan tidak menggolong-golongkan bangsa-bangsa berdasarkan apapun untuk menilai derajat, harkat, martabat dan hakekat manusia dengan kehidupanya.
Sebelum bangsa-bangsa Eropa berlomba-lomba datang ke tanah Papua dengan misi doktrin agama, ideologi dan mencari rempa-rempa demi kemakmuran perekonomian negaranya. sebelum Nusa dan bangsa Papua diintegrasikan secara paksa oleh Amerika beserta sekutunya yang menghuni Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan Negara Kesatuan Repulik Indoenesia (NKRI) ke dalam Negara Kesatuan Republik Indnesia.dan sebelum pemerintah dan negara manapun atau apapun datang ke tanah Papua, suku Nduga, bangsa Papua, ras melanesia pernah memanajemen hidup dan kehidupan.Dan hidup berdiri diatas tanah dengan kaki sendiri, walau tidur-bangun di goa-goa dan nomaden atau di alam keprimitifan.
Dengan mengerti realitas karena merasakan, jika duduk merenung sambil meratapi putaran roda kehidupan dibawah kendali oknum tertentu dengan kekuasaan ini tidak akan berhenti menanti untuk menunggu bangsa Papua berhenti meratapi realitas kehidupan ini.kondisi ini tidak akan bertanya tentang kesiapan ataupun ketidaksiapan pada rakyat Papua. kondisi ini akan terus berjalan, jalan dan jalan sampai pencapaian tujuan sebuah ideologi politik yang dijalankan sistematis dengan alat negara serta kekuasaan atas nama negara berdasarkan kontitusi.
Lantas harus bagaimana? Untuk menjawab pertanyaan ini, tidak ada kata lain selain bersatu padu dalam satu kesatuan yang solid dan melawan, lawan dan lawan.persatuan dan kesatuan harus dibangun diatas pondasi kesadaran yang diawali dengan bersatu dengan diri sendiri, keluarga, suku, bangsa dan negara.Bersatu untuk menyatukan persepsi, kekuatan, mengenal kawan dan lawan dan bergerak menuju tujuan dengan menggunakan talenta, bakat, minat, kegemaran, keahlian masing-masing yang memang Tuhan anugerahkan kepada setiap individu.Hendaknya kita menarik pelajaran berharga dari sejarah bersatunya para Pemuda-pemudi dalam melawan para kolonial yang menindas Indonesia kala itu dalam menggerakan derap langkah perjuangan. Untuk melawan, seperti halnya kita menghitung bilangan satu sampai seribu.kita tidak mungkin langsung mencapai seribu tanpa diawali dengan angka satu.
Ketika mendengar seruan lawan, lawan dan lawan, yang terlintas di dalam pikiran dan benak adalah pegang panah, tombak, kapak, parang, pisau, senjata dan alat tajam lainnya dan masuk ke dalam medan perang untuk melakukan peperangan.itu memang benar, tetapi bukan merupakan satu-satunya jalan tetapi salah satu dari sekian banyak jalan yang tersedia untuk ditempu.kini tinggal sejauh mana kreativitas kita dalam mencari jalan, menemukan, meyakini dan bergerak mengikutinya dalam mencapai tujuan akhir perjalanan tersebut yaitu kebebasan dari penindasan lingkaran setan.karena kita bukan Tuhan yang maha tahu tetapi adalah merupakan manusia yang sedang mencari jalan dan tidak ada satu pun jalan yang sedang kita tempu yang memberikan signal garansi kepastian pencapaian tujuan dan cita-cita.singkatnya, banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menuju kebebasan atau kemerdekaan.
Era otonomi khusus adalah era yang sarat dengan peluang dan tantangan. Dengan memberikan respek dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas kreativitas anak bangsa dan negeri Papua dalam menempu jalan lain untuk membebaskan bangsa Papua dari segala bentuk penindasan, atas keyakinan pribadi berdasarkan pengertian realitas, sebagai kontribusi pribadi dalam mencari jalan keluar kebebasan, Barangkali kita menyelam dalam kolam kondisi yang ada sambil minum airnya untuk mengambil mutiara Freedom di dasar kolam GENOSIDA.keyakinan ini datang begitu saja atas pembacaan realitas dan kekuatan bangsa Papua untuk melawan. karena jika tidak menyelam “Pasti” “Mati”. dan menyelam tetapi tidak minum airnya juga “Pasti” “Mati”.Jadi, menyelam dengan tujuan yang jelas yaitu kemerdekaan bangsa Papua dari segala bentuk Penindasan sambil meminum air GENOSIDA yang difilterisir dengan Doa dan adat adalah jalan yang semestinya kita tempuh.
Kerangka berpikir ini muncul karena rakyat Papua pada umumnya dan masyarakat kabupaten Nduga (suku Nduga) pada khusunya yang sudah semakin dihimpit masih saja menjadi korban pertarungan oleh kepentingan pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab. Hal ini dapat kita lihat sendiri sebuah paradigma yang sedang terjadi di Ndugama dan Papua, pemiskinan, pembodohan dan diskriminasi di atas tanah sendiri. Darah dan air mata anak bangsa menjadi makanan dan minuman sampai titik klimaksnya pikiran makan badan kurus kerempeng, tertawa sendiri, pungut sampah di jalanan dan terakhir mati diatas tanah dan negeri sendiri.
Paradigma ini menjadi suatu konsekuensi logis dari kebijakan pemerintah yang sentralistik, eksklusif dan berwatak akumulatif. Suatu keadaan yang mengagung-agungkan keharmonisan, ketentraman dan kestabilan yang dibangun di atas bara GENOSIDA. Padahal sesungguhnya apa yang dikatakan “aman”, “hidup berdampingan’’ hanyalah berdiri di atas kertas belaka atau hanya di bibir saja.slogan Atau kalau toh dilihat hanyalah sebatas semu saja. Sejatinya, menyimpan bara yang setiap saat membesar dan mengeluarkan letupan-letupan di sana-sini yang kita saksikan dan rasakan sendiri seperti perang suku di Timika berkepanjangan menjadi musuh abadi, pembunuhan rakyat sipil di Wamena dan Puncak Jaya, Keracunan di Jayapura, Wamena dan beberapa Daerah, Narkotika dan minuman keras menjadi minuman sehari-hari.
Ini masih menunjukkan bahwa pemerintahan belum bersih dari warisan-warisan lama yang menumpang di kereta api ‘’reformasi’’. Dengan santainya, para elit politik lokal yang adalah anak negeri Papua sibuk berebut kekuasaan seolah sarana politik dan birokrasi menjadi miliknya sementara rakyatnya dibiarkan menghadapi frustasi setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dekade dan abad menanti perubahan yang tak kunjung tiba tetapi selalu dijemput dengan alam maut yang merupakan buah tujuan sebuah rencana ideologi politik bermotif ekonomi yang diimplemensikan sistematis.
Selain tantangan terhadap masalah politik, kita juga diperhadapkan pada tantangan tidak adanya keterbukaan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Oleh karena itu tugas yang paling mendesak bagi kerja-kerja ke depan adalah upaya memberdayakan masyarakat baik secara politik, ekonomi, sosial maupun budaya.memandirikan masyarakat.menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan diri sendiri, keluarga, suku, bangsa dan negaranya sendiri.bukan hanya sebagai objek pembangunan yang selalu diobjekkan demi kenyangnya perut individu atau kelompok tertentu saja. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di pelosok pedesaan, yang selama ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Maka dari itu sasaran kerja pengorganisiran masyarakat (Communitty Organizing Work) seharusnya lebih dititikberatkan pada pemberdayaan masyarakat yang ada di pelosok-pelosok pedalaman karena merupakan barometer kesuksesan pembangunan rakyat Papua namun perlu disadari dan diakui bahwa itu bukan merupakan tujuan akhir perjuangan pemberdayaan dan pembebasan rakyat Papua dari segala bentuk dan modus penindasan dengan segala motivasi tertentu.
Nduga adalah salah satu dari sekian banyak suku bangsa Papua ras Melanesia yang mendiami tanah Papua bagian selatan khususnya di kabupaten Nduga dan beberapa kabupaten di kawasan Pegunungan Tengah Papua.suku Nduga adalah salah satu dari sekian banyak suku Bangsa Papua ras melanesia yang sudah dan sedang menjadi objek korban praktek sebuah politik ideologi Pancasila yang terencana dan dijalankan sistematis.Jika ditelusuri Jejak Perjalanan Peradaban Suku Nduga Lebih Khusus Dalam Mengenal pendidikan tentu saja seumur jagung. Suku ini mengenal tulisan atau pendidikan pada tahun 1963 dengan daerah pusat pendidikan dan pembangunan peradabannya di Mapnduma.
Selama empat dekade tujuh tahun yaitu 47 tahun suku ini mengenyam pendidikan, telah banyak melahirkan puluhan sarjana maupun sarjana-sarjanaan dari dalam sekolah dan pengajar siluman.dan selama mengikuti pendidikan di berbagai kota/wilayah studi, banyak Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga telah dibentuk atau didirikan secara lokal.organisasi-organisasi tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Wilaya Indonesia Timur:
Ikatan Pelajar Mahasiswa Nduga Se-Indonesia yang disingkat (IPMN) berkantor pusat di Jayapura. Didirikan di Jayapura pada tahun 1996/1997
2. Wilayah Indonesia Tengah:
Persatuan Mahasiswa Nduga yang singkat (PERMANDU) berkantor pusat di Gorontalo.Didirikan di Gorontalo pada tahun 2009.
3. Wilayah Indonesia Barat:
Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Jawa-Bali yang disingkat (IPMANDU).Berkantor pusat di Jogja.didirikan pada tahun 2004.
Dengan sikap optimisme yang tinggi memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas segala gebrakan pembangunan yang dilakukan para senior (baik program dan kebijakan yang sukses terlaksana maupun yang gagal), selaku para pewaris generasi penerus gen dan tongkat estafet pembangunan Nduga dan Papua maka, bagian dari introspeksi atas pembangunan peradaban suku Nduga dan bangsa Papua yang dilakukan generasi sebelumnya agar dapat menarik hikma untuk menjadi pelajaran dalam melanjutkannya.
Dengan mengamati kondisi riil realisasi pembangunan di kabupaten Nduga akhir-akhir ini sungguh amat sangat memprihatinkan.apakah dikarenakan oleh ketidaksiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan produktif yang dapat menggerakkan roda pembangunan Nduga di Ndugama? Apakah kekhilapan dan demoralisasi para penggerak roda pembangunan Nduga di Ndugama? Apakah konsekwensi logis dari derap langkah yang ditempu dalam proses perjuangan pemekaran kabupaten Nduga? Kurangnya kesadaran para penggerak roda pembangunan yang dituakan ini akan arti persatuan dan kesatuan dalam membangun yang adalah rumus baku kesuksesan pembangunan? Ataukah karena kutukan nenek moyang dan missionaris?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas bisa benar semua, bisa salah semua tergantung siapa yang menilai dengan kaca mata apa dan dengan tujuan apa.untuk mendukung tulisan dalam buku ini, yang dibenarkan adalah karena Kurangnya kesadaran para penggerak roda pembangunan yang dituakan ini akan arti persatuan dan kesatuan yang adalah rumus baku kesuksesan dalam melakukan pembangunan.jika menelusuri zaman, latar belakang masa pendidikan dan sejarah perjalanan pendidikan para penentu arah langkah program dan kebijakan pembangunan ini puluhan tahun silam, kebiasaan ini adalah merupakan warisan masa lampau sejak menempu pendidikan.semasa kuliah tidak pernah duduk bersama-sama dalam sebuah media pemersatu persepsi yaitu organisasi untuk menyatukan persepsi dalam mengenal kawan dan lawan maupun musuh agar dapat bersatu dalam satu kesatuan yang solid untuk melawan/menghadapi lawan maupun musuh.warisan abadi yang terparah dari sekian banyak warisan negatif yang sudah ketinggalan zaman adalah krisis sikap adaptasi dan fleksibilitas terhadap perubahan dan perkembangan zaman.tidak dapat disangkal bahwa generasi yang mulai mengenal media organisasi sebagai media wahana pemersatu adalah generasi Tahun 1996-an sampai buku ini disusun atau sekarang.
Surve Histori, keterangan dan pengakuan pelaku menunjukan bahwa Secara geografis, para senioritas yang kini memangku jabatan strategeis untuk membuat program dan kebijakan pembangunan ini selama mengikuti pendidikan rata-rata di kota studi Jayapura sehingga tidak ada segumpal alasan untuk tidak duduk bersama-sama agar dapat membangun diskusi penyatuan persepsi.
kini, di generasi ini, generasi di saat buku ditulis, gereasi yang sedang dan akan hidup di zaman edan yang nilai-nilai solidaritas dan nasionalime terkisis dengan merebaknya globalisasi dan menjamurnya kampanye indiviualisme berkumandang, secara geografis Pelajar dan Mahasiswa Nduga sudah tersebar dalam ruang lingkup kota/wilayah (lokal, nasional, regional dan internasional) yang sangat sukar untuk saling menjangkau antara satu sama lain.dan secara organisasional, dengan masing-masing kota/wilayah studi mendirikan organisasi lokal dengan nama dan anggaran dasar serta anggaran rumah tangga yang berbeda seperti tersebut diatas ini, akan berdampak negatif di kemudian hari.
Benih yang tertabur dan Kondisi yang sedang dipupuk ini di lain sisi ada baiknya, namun jika dipandang dari sisi pentingnya nasionalisme, solidaritas, persatuan dan kesatuan Nduga, sudah barang tentu sedang merancang bom waktu pembasmi nasionalisme, solidaritas, persatuan dan kesatuan yang telah disadari, disepakati dan dibuatkan komitmen untuk dibangun dan dipupuk secara bersama-sama untuk menjadi aset batu loncatan atau pijakan dalam membangun Nduga dan Ndugama khususnya dan nusa dan bangsa Papua pada umumnya.
Pengalaman dan pengamatan kondisi riil di lapangan menunjukan bahwa perkelahian atau pertengkaran di tingkat para intelektual di arena politik praktis dalam memperebutkan kue kekuasaan maupun di arena mana saja, untuk menyelesaikannya sangat sukar. kalaupun dapat, membutuhkan waktu yang lumayan lamanya.diprediksi bahwa zamannya para Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang sedang mengikuti pendidikan di berbagai kota studi ini pulang sehabis menyelesaikan pendidikannya, kuantitas para intelektual di kalangan masyarakat suku Nduga akan membengkak atau meningkat.
Dengan meningkatnya kuantitas intelektual Nduga yang mempunyai moral dan etika serta mengerti arti pentingnya nasionalisme, solidaritas, persatuan dan kesatuan akan menjadi berkat bagi masyarakat. namun sebaliknya, yaitu musiba jika meningkatnya kuantitas intelektual Nduga yang tidak bermoral dan etika serta tidak mengerti arti pentingnya nasionalisme, solidaritas, persatuan dan kesatuan alias ibarat robot yang siap menjadi bumerang bagi masyarakat Nduga yang mengakuinya/ mengharapkannya sebagai the agent of change of the Nduga’s peoples life style.
Seluruh Pelajar dan Mahasiswa Nduga merasa prihatin dan bertanggungjawab terhadap berbagai masalah pembangunan di Papua pada umumnya dan kabupaten Nduga pada khusunya baik masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur serta bidang politik, sosial-budaya dan lain sebagainya yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Masalah tersebut sebagai suatu perbuatan yang merusak nilai-nilai dan tatanan kehidupan masyarakat Nduga khususnya dan Papua pada umumnya. Berbagai masalah yang terjadi di Kabupaten Nduga dan Papua nampak dimata kita, namun lemahnya sistem kontrol dari pemerintah maupun lembaga independent lain yang amat memperhatinkan nilai kehidupan yang semakin terkikis oleh perkembangan zaman yang tidak menjanjikan kepada suku Nduga dan bangsa Papua karena hal ini nampak sekali tidak ada jaminan hak hidup yang diatur dalam UUD 1945 maupun piagam Hak Asasi Manusia (HAM).
Sesungguhnya Pelajar dan Mahasiswa Nduga merupakan insan pembangunan nasional yang memiliki intelektualitas dan moralitas yang mampu memberikan solusi bagi pembangunan ke arah suatu tatanan masyarakat Nduga khususnya dan Papua pada umumnya yang adil dan makmur pada semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Menyadari besarnya tanggung jawab tersebut, diperlukan kesatuan persepsi dan arah pemikiran gerak dan langkah seluruh Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang tertata dalam suatu wadah yang dapat merangkum dan mewakili seluruh Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia untuk menuju suatu tatanan organisasi yang professional, independen, ilmiah, demokratis, reformis, aspiratif, dan dinamis.
Berangkat dari keprihatinan dan kepedulian yang membara dalam relung jiwa serta menyadari sebagai tanggungjawab, semua komponen Pelajar dan Mahasiswa Nduga dari 18 kabupaten di kawasan Pegunungan Tengah Papua (Nduga, Jayawijaya, Puncak Jaya, Yahukimo, Tolikara, Nabire, Paniai, Intan Jaya, Mamberamo Raya, Puncak Papua, Lani Jaya, Pegunungan Bintang, Dogiai, Deiai, Mamberamo Tengah, Yalimo dan Timika) maupun dari mana saja telah duduk bersama mendiskusikan keadaan yang sedang berlangsung untuk mencarikan solusinya.dan telah disepakati bahwa dibutuhkan persatuan dan kesatuan segenap komponen masyarakat Papua untuk bergerak bersama-sama mewujudkan cita-cita luhur mencapai kemerdekaan diatas kemandirian bersama di atas tanah air Papua tercinta.
Dari sekian banyak diskusi yang terbangun, diskusi di tingkat lokal telah dibangun dari tahun 2006 dan diskusi di tingkat nasional diawali pada tahun 2008.pada tahun 2009, telah diadakan telekonferensi nasional Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia via telephon yang dihadiri oleh keterwakilan dari setiap wilayah untuk membahas agenda berikut ini hanya sebatas wacana.agenda-agenda tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia 2009
2. Penyatuan perbedaan organisasi-organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang tersebar dan sedang beroperasi di berbagai penjuru kota/wilayah studi demi keutuhan, persatuan dan kesatuan Nduga.
Klimaks dari sekian banyak diskusi yang terbangun di tingkat lokal dan nasional, telah diadakan telekonferensi Nasional via telephon untuk mengadakan rapat pimpinan nasional organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia di setiap kota /wilayah studi. Rapat Pimpinan Nasional organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang tersebar di wilaya Indonesia Timur, Tengah dan Barat pada tanggal 03 Juli 2010 via telephon dengan agenda sebagai berikut:
1. Pembekuan, peleburan dan Penyatuan organisasi lokal yang dibentuk/didirikan dan sedang beroperasi di berbagai kota/wilayah studi.
2. Penentuan waktu dan tempat untuk duduk bersama guna membentuk panitia penyelenggara Kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
Keputusan Rapat Pimpinan Nasional organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang tersebar di wilaya Indonesia Timur, Tengah dan Barat pada tanggal 03 Juli 2010 via telephon dengan agenda Penyatuan semua organisasi lokal yang dibentuk/didirikan dan sedang beroperasi di berbagai kota/wilayah studi dan Penentuan waktu dan tempat untuk duduk bersama membentuk panitia penyelenggara penyatuan/pembentukan satu organisasi secara nasional. Rapat Pimpinan Nasional semua organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga diadakan dengan agenda sebagaimana tersebut diatas telah menyepakati dan merumuskan beberapa poin antara lain sebagai berikut:
1. Seluruh organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang sedang beroperasi di seluruh kota/wilayah studi harus dibekukan, dileburkan dan mendirikan satu organisasi yang berlaku secara nasional.
2. Pelaksanaan penyatuan/pembentukan organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang berlaku secara nasional perlu dikemas dan diadakan/dilaksanakan dalam Kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia.
3. Untuk penyelenggaraan Kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia perlu segera membentuk panitia penyelenggara pada tanggal satuan bulan Juli 2010 di Jayapura-Papua dengan memanfaatkan momen libur sesuai dengan kalender libur pendidikan Nasional Indonesia.
Kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia adalah hasil keputusan rapat pimpinan nasional semua organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang tersebar di wilaya Indonesia Timur, Tengah dan Barat pada tanggal 03 Juli 2010 via telephon yang diadakan dengan tujuan membekukan seluruh organisasi lokal di seluruh kota/ wilayah studi, mendirikan satu organisasi secara nasional, memilih dan mengangkat pengurus dan mendeklarasikan organisasi yang akan didirikan. Selain itu, membahas berbagai persoalan umum dan persoalan khusus di kabupaten Nduga dan Papua diantaranya Persoalan Otonomi Khusus, Korupsi, Ilegal Loging, PEMILUKADA, HAM, Politik dan lain-lain.
Yang Mendasari Pelaksanaan Kegiatan Kongres Nasional I Dan Perayaan Matal Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Adalah:
a. Hasil Rapat Pimpinan Nasional Khusus (RAPIMNASUS) Lintas Organisasi Lokal Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia Tertanggal 03 Juli 2010.
a. Hasil Pertemuan Nasional Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia tertanggal 25 Juli 2010 di Jayapura.
b. Surat Keputusan DPP IPMN Nomor 16/BP-DPP-IPMN/PKNPN/SK/VII/2010 tentang Pembentukan dan Penetapan Komposisi dan Personalia Panitia Pelaksana Kongres Nasional I Organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
c. Surat Keputusan DPP PMN Nomor 013/R-PMN/GTLO/VIII/10 tentang Rekomendasi Penetapan Komposisi dan Personalia Panitia Pelaksana Kongres Nasional I organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
d. Surat Keputusan DPP IPMANDU Nomor 04/II/SK/IPMANDU/10 tentang dukungan Pembentukan dan Penetapan Komposisi dan Personalia Panitia Pelaksana Kongres Nasional I organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
Menindaklanjuti hasil Keputusan Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) semua Organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang tersebar di wilayah Indonesia Timur, Tengah dan Barat pada tanggal 03 Juli 2010 melalui via telephon sebagaimana tersebut diatas, Pada Hari/Tanggal, Minggu 25 Juli 2010 Pukul 20:00 WIT diadakanlah Pertemuan Nasional Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang dipasilitasi oleh Badan Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Mahasiswa Nduga Se-Indonesia (IPMN) di kota studi Jayapura.Pertemuan tersebut dihadiri oleh keterwakilan Pelajar dan Mahasiswa Nduga dari seluruh kota/wilayah studi di seluruh Indonesia.
Agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah pembentukkan panitia pelaksana Kongres Nasional I Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.namun dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pertemuan tersebut yang memang rasional maka telah disepakati bahwa kongres Nasional I Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia akan dikemas dalam satu acara dengan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia 2010.dan Telah disepakati bahwa nama kegiatan adalah Kongres Nasional I dan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia 2010.
Telah disepakati dan direncanakan dalam pertemuan tersebut diatas bahwa Kongres Nasional I dan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia 2010 akan diselenggarakan di Jayapura pada tanggal 27-31 Desember 2010.untuk menggerakan kegiatan dimaksud telah mengadakan pembentukan dan pemilihan panitia penyelenggara.tingkatan dan Komposisi kepanitiaan penyelenggara Kongres Nasional I Dan Perayaan Natal Pelajar Dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia 2010 adalah sebagai berikut:
1. Panitia Nasional
2. Panitia lokal
Dalam momentum inilah seluruh Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia yang berasal dari 18 (Delapan belas) Kabupaten yaitu : Nduga, Jayawijaya, Puncak Jaya, Yahukimo, Tolikara, Nabire, Paniai, Intan Jaya, Mamberamo Raya, Puncak Papua, Lani Jaya, Pegunungan Bintang, Dogiai, Deiai, Mamberamo Tengah, Yalimo dan Timika dan dari manapun hadir secara militan dan progresif untuk menyatukan organisasi (honai), persepsi, visi, misi, tujuan, komitmen, strategi, program, kegiatan dan gaya perjuangan bersama untuk membangun kemandirian masyarakat Nduga dan rakyat Papua.
II. DASAR PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 Tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.
2. Undang-Undang No. 8 Tahun 1985 Tentang organisasi kemasyarakatan.
3. Telekonferensi RAPIMNASUS organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia tanggal 03 Juli 2010.
4. Pertemuan Pembentukan Panitia pelaksana tingkat Nasional dan lokal tanggal 25 Juli 2010 di sekretariat IPMN di Abepura, Jayapura-Papua (Aula asrama Ninmin).
5. Surat Keputusan DPP IPMN Nomor 16/BP-DPP-IPMN/PKNPN/SK/VII/2010 tentang Pembentukan dan Penetapan Komposisi dan Personalia Panitia Pelaksana Kongres Nasional I Organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
6. Surat Keputusan DPP PMN Nomor 013/R-PMN/GTLO/VIII/10 tentang Rekomendasi Penetapan Komposisi dan Personalia Panitia Pelaksana Kongres Nasional I organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
7. Surat Keputusan DPP IPMANDU Nomor 04/II/SK/IPMANDU/10 tentang dukungan Pembentukan dan Penetapan Komposisi dan Personalia Panitia Pelaksana Kongres Nasional I organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
III. NAMA KEGIATAN
Kongres Nasional I Dan Perayaan Natal Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
IV. THEMA DAN SUB TEMA KEGIATAN
Thema : “BERUBAH MENJADI SATU MENUJU
KEMANDIRIAN MERAJUT MASA DEPAN”
Sub Thema : “Melalui kongres Nasional I dan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia, kita bersatu padu untuk membangun kemandirian Nduga dan Papua”
V. TUJUAN KEGIATAN
1. Membekukan seluruh organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga di seluruh Indonesia
2. Meleburkan dan mendirikan satu organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang berlaku secara Nasional.
3. Memilih dan melantik Pengurus Pusat Badan kelengkapan organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
4. Menyusun Strategi Organisasi.
5. Menyusun Garis-Garis Besar Haluan Kerja Organisasi
6. menyusun program kerja organisasi.
7. Mendeklarasikan organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang berlaku secara nasional dalam satu acara dengan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
VI. VISI DAN MISI
A. Visi
Terwujudnya Manusai Nduga yang berkualitasn dalam intelektualitas, moralitas dan kepribadian.
B. Misi
1. Membangun hubungan kerja sama guna meningkatkan mentalitas Pelajar dan Mahasiswa Nduga sebagai anggota organisasi dengan masyarakat umum.
2. Mengali, menghayati, membina, mengembangkan dan mengamalkan nalar dan ketrampilan Pelajar dan Mahasiswa Nduga di semua disiplin ilmu untuk kepentingan masyarakat umum.
3. Membantu mencegah dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anggota demi kepentingan masyarakat pada umumnya dengan tetap menjaga netralitas dan keindependesiannya.
4. Melaksanakan kegiatan lain yang sah dan sesuai dengan AD/ART dan GBHKO serta peraturan tambahan organisasi.
5. Turut menjadi motivator, katalisator dan mediator antara masyarakat Nduga dengan pemerintah dan tetap menjaga netralitas dan keindependesiannya.
6. Turut memajukan kesejahteraan masyarakat demi tercapainya tujuan pembangunan nasional.
VII. TARGET KEGIATAN
Motto pembangunan yang dikedepankan dalam Kongres Nasional I Pelajar dan mahasiswa Nduga Se-Indonesia adalah “Nduga Li Engga Wenarugwi Nenpe Misik, Nunuwi Tenaje Mijangen Misik” hasil konggres sebagai sebuah masukan dan telaahan bagi seluruh Pelajar dan Mahasiswa Nduga. Target dari pada kegiatan adalah :
1. Dengan Kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia akan membekukan dan meleburkan seluruh organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Sabang sampai Merauke.
2. Dalam Kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia akan mendirikan organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Sabang sampai Merauke.
3. Dalam kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia akan memilih dan menetapkan Pengurus Pusat Badan kelengkapan Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
4. Dalam Kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia akan menyikapi dan menetapkan permasalahan hak hidup masyarakat Nduga.
5. Mendata ulang jumlah Mahasiswa asal Ndugama.
6. Menyusun Garis-Garis Besar Haluan Kerja organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia.
7. menyusun program kerja Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia masa periode berjalan.
8. Mendeklarasikan Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga yang berlaku secara Nasional yang pendeklarasiannya akan dikemas dalam satu acara dengan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia
VIII. BENTUK DAN DAMPAK KEGIATAN
1. Seminar dari berbagai pakar masing-masing disiplin ilmu dan pemerhati Nduga dan Ndugama.
2. Penyampaian makalah dari peserta.
3. Diskusi dan curah pendapat.
4. Pemilihan pengurus badan kelengkapan Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia di Tingkat Pusat sampai Anak Cabang distrik seluruh Indonesia.
IX. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN
Waktu dan tempat Pelaksanaan kegiatan Kongres Nasional I dan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia ini jatu pada tanggal 27-31 Desember 2010, bertempat di Wilayah Indonesia Timur kota Studi Jayapura:
Tempat : Aula Museum EXPO, PERUMNAS I Waena, Jayapura-
Papua
Tanggal : 27 – 31 Desember 2010
X. KETENTUAN PESERTA
A. KETENTUAN UMUM
Peserta Kongres Nasional I dan Perayan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia berjumlah 1000 orang dengan perhitungan sebagai berikut :
1. Wilayah Indonesia Timur :
Delegasi kota studi : Manokwari, Kota Jayapura, Nabire,
Mimika, Jayawijaya, Merauke, masing-
masing 50 orang
2. Wilayah Indonesia Tengah :
Delegasi Kota studi : Manado, Gorontalo, Makasar masing-masing 50 orang
3. Wilayah Indonesia Barat :
Delegasi Kota studi : Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya,
Malang masing-masing 50 orang
4. Delegasi Korwil Indonesia Timur 50 orang
5. Delegasi Korwil Indonesia Tengah 50 orang
6. Delegasi Korwil Indonesia Barat 50 orang
7. Delegasi Penghubung Luar Negeri masing-masing 1 orang
8. Peninjau dari Mitra (LMA, LSM, Pemerintah, Ikatan Mahasiswa Kabupaten selain Nduga, Senat Mahasiwa, Organisasi masyarakat, perempuan, adat senior anak “Koteka”dll) masing-masing satu orang
9. Panitia Nasional dan Lokal 50 orang
B. SYARAT PESERTA
1) Syarat Peserta (Person):
1. Pelajar dan Mahasiswa Murni terdaftar di salah satu sekolah dan atau Perguruan Tinggi.
2. Para alumni yang masih menjadi pengurus di setiap tingkatan kepengurusan organisasi lokal.
3. Terdaftar secara resmi di organisasi local yang bersangkutan di kota studi yang bersangkutan
2) Syarat Administrasi:
1. Membawa Surat Mandat dari utusan/delegasi asal, organisasi Mitra yang bersangkutan.
2. Membawa Surat mandat dari organisasi lokal bagi peserta utusan organisasi lokal dari setiap kota studi/delegasi.
3. Membawa Surat keterangan aktif sekolah dan atau kuliah dan atau Kartu Pelajar dan Mahasiswa.
4. Mengumpulkan Pas Foto Berwarnah ukuran 2X3 = 3 lembar untuk keperluan ID.CARD dan sertifikat
5. Wajib mengisi formulir pendaftaran.
C. TATA CARA PENDAFTARAN
1. Pendaftaran peserta/Delegasi dapat dilakukan via email, pos, atau paling lambat H-1 di seketariat Panitia Lokal atau Nasional.
Tempat Pendaftaran: untuk wilayah barat dan tengah dapat didaftarkan di panitia local dengan alamat Jl.Biak Abepura, Jayapura-Papua (Asrama Ninmin) telephon 081248036841, 081344079662; PO.BOX 156; e_mail nduga.students@ yahoo.com
1. Saat pendaftaran sudah harus isi Biodata dan menyerahkan pas foto berwarnah dengan ukuran 2X3 = 2 lembar
D. KETENTUAN LAIN
1. Biaya Tiket Pulang Pergi (PP) ditanggung oleh masing-masing Delegasi (kota studi, wilayah studi, Undangan, Peserta Peninjau, Simpatisan dan lain-lain.)
2. Panitia hanya menanggung Makan dan akomodasi
3. Hal tersebut disampaikan karena mengingat keterbatasan dana pada Panitia pelaksana.
XI. SUMBER DANA
Dana yang diperoleh dalam upaya menyukseskan kegiatan Kongres Nasional I dan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia diperoleh dari :
1. Swadaya Panitia
2. Iuran wajib Pelajar dan Mahasiswa Nduga
3. Senioritas
4. Donatur
XII. JADWAL KEGIATAN
Berikut ini adalah jadwal Kongres Nasional I dan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia:
| JADWAL ACARA KONGRES NASIONAL I DAN PERAYAAN NATAL PELAJAR DAN MAHASISWA NDUGA SE-INDONESIA JAYAPURA, 27-31 DESEMBER 2010
| |||||||
| NO | HARI/TGL | JAM | ACARA/PEMATERI | NARASUMBER | MODERATOR | TEMPAT | PENANGJWB. |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 1 | Senin, 27 Desember 2010 |
06.00 – 09.00
| Regestrasi dan cek in peserta |
| Panitia lokal | JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Ketua |
| 09.00 – 10.00 | Persiapan Pembukaan |
| Seksi Acara | Ketua | |||
|
10.00 – 12.00 | Acara Pembukaan : |
|
| Panitia | |||
|
| 1.Pembukaan / Ucapan Selamat Datang |
| MC |
| |||
| 2.Doa pembukaan |
| MC | Panitia | ||||
| 3.Laporan Panitia Nasional Pelaksana Kongres Nasional I dan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia 2010 |
|
| Panitia | ||||
| 4.Sambutan ketua-ketua Organisasi lokal Pelajar dan Mahasiswa Nduga dari wilayah Indonesia Timur, Tengah dan Barat.
|
| MC | Panitia | ||||
| 5.Sambutan Bupati Kabupaten Nduga sekaligus membuka kegiatan Kongres Nasional I dan Perayaan Natal Pelajar dan Mahasiswa Nduga se-Indonesia 2010
|
| MC | Panitia | ||||
| 6.Doa Penutup |
| MC | Panitia | ||||
| 12.00 – 13.00
| Istirahat / Makan siang |
|
| Konsumsi | |||
| SEMINAR PRA – KONGRES NASIONAL I DAN PERAYAAN NATAL PELAJAR DAN MAHASISWA NDUGA SE-INDONESIA 2010 | |||||||
| 13.00 – 15.30
| SESI I Upaya Pemerintah Kabupaten Nduga Dalam memabangun masyarakat Kabupaten Nduga | Drs.Edison Gwijangge |
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Panitia | ||
| SESI II Upaya Lemabaga Parlemen Kabupaten Nduga Dalam Pembangunan Sumberdaya Manusia Masyarakat Suku Nduga
| KETUA DPRD KABUPATEN NDUGA Yairus Gwijangge, S.Sos | ||||||
| 15.30 – 17.00
| SESI III Peran Pendidikan Dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia masyarakat Nduga
| Amandus Ubruangge, Spd |
| ||||
| SESI IV Peran Dan Upaya Lemabaga Adat Masyarakat Suku Nduga Dalam Membangun Sumber Daya Manusia Masyarakat Suku Nduga
| Ketua lembaga adat masyarakat Nduga ( LMA) Jhony Beon
| Panitia | |||||
| 17.00 – 19.00 | Makan Malam |
|
| Konsumsi | |||
| 2 | Selasa, 28 Desember 2010 | 07.00 – 08.00 | Makan Pagi |
|
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin)
| Konsumsi |
| 08.00 – 10.00
| SESI V Peran Organisasi Pelajar, Mahasiswa Dan Pemuda Dalam Membangun Sumber Daya Manusia Masyarakat Suku Nduga
| Namia Gwijangge, Spd
|
|
Panitia
| |||
| SESI VI Peran Dan Upaya Lembaga Gereja Dalam Membangun sumber Masyarakat Suku Nduga
| Moses Lokbere, S.Th
| ||||||
| 10:00 – 12:00 | Sesi VII Peran Dan Upaya Darma Wanita Kabupaten Nduga Dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia Masyarakat Nduga.
| Ny. Paulina Ubruangge, S.IP
|
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Panitia
| ||
| SESI VIII Sistem Manajemen Dan Pengkaderan Organisasi | Jhony Wesareak, ST | ||||||
| 12:00 – 13:00 | Makan Siang |
|
|
| Konsumsi
| ||
| ACARA KONGRES NASIONAL I PELAJAR DAN MAHASISWA NDUGA SE-INDONESIA | |||||||
| 14.00 – 14.30 | Pemilihan Presidium Sidang sementara |
|
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Panitia | ||
|
PLENO I
| |||||||
| 14.30 – 15.30 | Pembahasan Jadwal Sidang | Presidium Sidang sementara |
| ||||
| 15.30 – 17.00 | Pembahasan Tata Tertib Sidang | Presidium Sidang sementara |
| ||||
| 17.00 – 17.30 | Pemilihan Pimpinan Sidang Tetap | Presidium Sidang sementara |
| ||||
|
PARIPURNA I
| |||||||
| 17.30 – 18.00 | Demisioner sekaligus Pembekuan Organisasi Lokal dari 3 Wilayah | Ketua – Ketua Organisasi Lokal |
Pimpinan Sidang Tetap
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Panitia | ||
|
19.30 – 20.00 |
Presentasi Rancangan Organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se- Indonesia | Team ad Hock | |||||
| 20.00 – 22.00 | Makan Malam |
|
| konsumsi | |||
| 22.00 – 06.00 | Istirahat – MCK |
|
| Panitia | |||
|
|
| 07.00 – 08.00 | Makan Pagi |
|
| konsumsi | |
| 3 | Rabu, 29 Desember 2010 |
PLENO II
| |||||
| 08:00 – 09:00 | Pembagian Komisi : Komisi A : Membahas dan Menyempurnakan Logo Dan Atribut-Atribut Organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia Komisi B : Membahas Anggaran Dasar Organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia Komisi C : Membahas Anggaran Rumah Tangga Organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesa Komisi D : Struktur dan tata kerja Organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia Komisi E : GBHKO dan Rencana Strategis (Renstra) / Rencana Tindak Lanjut (RTL) Komisi F : Rencana Anggaran Pendapatan Dan Belanja Organisasi (RAPBO) Organisasi Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia. Komisi G : evaluasi hasil Kongres I & serta Rekomendasi Kongres II Organisasi Pelajar dan Mahasisawa Nduga Se-Indonesia;
| Pimpinan Sidang Tetap
| Pimpinan Sidang Tetap
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) |
| ||
| Panitia | |||||||
| 09.00 – 12.00 |
Pembahasan Sidang Masing – masing komisi
| Presidium Sidang Tetap |
| Gedung museum Negeri Papua-Waena (EXPO) Jayapura | Panitia | ||
| 12:00 – 13:00 | Makan siang |
|
| konsumsi | |||
|
PARIPURNA II
|
| ||||||
| 13:00 -19:30 | Hasil Pembahasan Komisi | Pelapor komisi | Presidium sidang tetap |
JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) |
Panitia
| ||
| 19.30 – 20.30 | Makan Malam |
|
| konsumsi | |||
| 20.30 -06:00 | Istirahat –Mck |
|
|
| Panitia | ||
| 4 |
| 07.00 – 08.00 | Makan Pagi |
|
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) Jayapura | Panitia |
|
| Kamis, 30 Juli 2010 | PLENO III | |||||
| 08.00 – 10.00 | Pembahasan tata tertib pemilihan |
Presidium Sidang Tetap
|
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Panitia | ||
| 10.00 – 11.30 | Pembentukan Badan Formatur | Presidium Sidang Tetap
|
| ||||
| 11.30 -12.30 | Pemilihan sekjen dan wakil sekjen organisasi Pelajar dan Mahasiswa Nduga periode 2011 – 2013 dan pengukuan | Badan Formatur |
Presidium Sidang Tetap
| Panitia | |||
| 12.30 – 13.00 | Makan Siang |
|
|
| Konsumsi | ||
| 13.00 – 18.00 | Persiapan penutupan | Seksi Acara |
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Panitia
| ||
| 18:00 – 20:00 | Makan malam |
|
| Konsumsi | |||
| 23.00 – 07.00 | Istirahat – Mck |
|
| Panitia | |||
|
|
| 07.00 – 12.00 | ACARA PENUTUPAN KONGRES NASIONAL I DAN IBADAH PERAYAAN NATAL PELAJAR DAN MAHASISWA NDUGA SE-INDONESIA 2010 |
|
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Panitia |
| 5 | Jumat, 31 Juli 2010 | 05.00 – 08.30 | Masak (Bakar Batu) |
| Koordinator Lapangangan | JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Konsumsi |
|
| Pembukaan
| Pdt.DUMMA SOCRATEZ SOFYAN YOMAN,STh, MA | MC | JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | Panitia | ||
| 1.Ibadah | |||||||
| 2.Laporan ketua panitia pelaksana Nasional
| Ruben Gwijangge | MC
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | ||||
| 09.00-14.00
| 3. Kesan Pesan wakil – wakil peserta dari wilayah Timur,Tengah, dan Barat | (ditentukan oleh masing – masing wilayah) | MC
|
| |||
| 4. sambutan sekretaris Jenderal (SEKJEN) terpilih
|
| MC
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) |
| |||
| 5. Penyerahan sertifikat secara simbolis kepada wakil – wakil peserta dari Wilayah Timur, Tengah dan Barat |
| MC
| |||||
| 6.Sambutan Sekaligus menutup Kongres Pelajar dan Mahasiswa Nduga se- Indonesia | KETUA DPRD KABUPATEN NDUGA YairusGwijangge, Sos | MC
| |||||
| 7. Pemotongan Tumpeng ulang Tahun |
| MC
| |||||
| Makan siang |
|
| JL.Biak, Abepura-Jayapura- Papua (Asrama Ninmin) | konsumsi | |||
| Pembagian sertifikat kepada seluruh peserta |
| Panitia
| Panitia | ||||
| 14.00 - | Check out S a y o o n a r a |
|
| ||||
| 6 | Sabtu, 01 Januari 2011 | 06.00 – 15.00 | Pembubaran panitia pelaksana, Ibadah mengawali Tahun Baru dan Rekreasi/Piknik | Badan Pengurus Organisasi terpilih (Penanggung Jawab) | Koordinator lapangan | Pantai hamai- sentani-Jayapura-Papua | Panitia |
XIII. XIII. KEPANITIAAN
Adapun Panitia Penyelenggara Kongres Nasional I Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia adalah sebagai berikut:
A. PANITIA NASIONAL
| KOMPOSISI PANITIA NASIONAL
| |
| PENGARAH :
| 1. Ikatan pelajar mahasiswa Nnduga Se-Indonesia (IPMN) 2. Ikatan Pelajar Dan Mahasiswa Nduga se-Jawa-Bali (IPMANDU) 3. Persatuan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia Tengah (PERMANDU) |
| PENANGGUNG JAWAB:
| DPP-IPMN-JAYAPURA
|
| PELAKSANA :
| Ketua : RUBEN GWIJANGGE Wakil ketua : DEYNUS GWIJANGGE Sekretaris : AGUS DIMIYE Wakil sekretaris : USMAN LOKBERE Bendahara I : DOLIA UBRUANGGE Bendahara II : DENNY KOGEYA
|
| I. Koordinator Dan Seksi-Seksi KOORDINATOR UMUM : FRENGKI GWIJANGGE 1. Koordinator Wilayah Indonesia Timur : GERSON GWIJANGGE 2. Koordinator Wilayah Indonesia Tengah : DONIAS NIRIGI 3. Koordinator Wilayah Indonesia Barat : PALE GWIJANGGE
| ||
| 1. Seksi PUBDEKDOK Koordinator : Yen Ubruangge Anggota : 1. Ori Lokbere 2. Alberna Gwijangge 3. Niap Kelnea 2. Seksi Kesekretariatan Koordinator : Namantus Gwijangge Anggota : 1. Erlius Gwijangge 2. Rhony Wesareak 3. Falen Tabuni 4. Ronal Tabuni
3. Seksi Perlengkapan Koordinator : Eliter Nirigi Anggota : 1. Islin Tabuni 2. Etius Gwijangge 3. Hans Serera 4. Erok Gwijangge
| 4. Seksi Usaha Dana Koordinator : 1. Wilayah Indonesia Timur: Donatus Ubruangge 2. Wilayah Indonesia Tengah: Kean Gwijangge 3. Wilayah Indonesia Barat: 4. Zeki Gwijangge 5. Seksi Konsumsi Koordinator : Kris Murib Anggota : 1. Gayus Koranue 2. Amnon Gwijangge 3. Merry Gwiangge 6. Seksi acara dan materi Koordinator : Hendrik Gwijangge Anggota: 1. Hendrik Gwijangge 2. Esti Lokbere 3. Terince Kogoya 4. Ento Gwijangge 5. Preni Tabuni
| 7. Team Ad-Hock Koordinator : Frengky Gwijangge Anggota: 1. Marius Lokbere 2. Ella Mirip 3. Eid Gwijangge 4. Namantus Gwijangge 5. Napen Wandikbo 8. Seksi keamanan Koordinator: Viktor Lokbere Anggota: 1. Tarni wandikbo 2. Elipanus wesareak 3. Yane gwijangge
|
B. PANITIA LOKAL
|
SUSUNAN PANITIA LOKAL KONGRES NASIONAL
| ||
| PENGARAH :
| 1. Ikatan pelajar mahasiswa Nnduga Se-Indonesia (IPMN) 2. Ikatan Pelajar Dan Mahasiswa Nduga Se-Jawa-Bali (IPMANDU) 3. Persatuan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia Tengah (PERMANDU) | |
| PENANGGUNG JAWAB:
| DPP-IPMN-JAYAPURA
| |
| PELAKSANA :
| Ketua : GERSON GWIJANGGE Wakil ketua : ENGGELINA YARINAP Sekretaris : YERMIUS LOKBERE Wakil sekretaris : ARIM TABUNI Bendahara I : IBA UMANGGE Bendahara II : LIPE GWIJANGGE
| |
|
KOORDINATOR UMUM : MELVIN TABUNI
SEKSI – SEKSI | ||
| A. Kesekretariatan : Koordinator : Arpi Dimiye Anggota: Seluruh Anggota Wilayah Timur
| B. Seksi Perlengkapan & Akomodasi: Koordinator : Mile Gwijangge Anggota: Seluruh Anggota Wilayah Timur
| |
| C. Seksi Acara & Materi Koordinator : Amion Karunggu Anggota : Seluruh Anggota Wilayah Timur
| D. Seksi Konsumsi Koordinator : Reni Doronggi Anggota : Seluruh Anggota Wilayah Timur
| |
| E. C.Seksi Dekorasi DokumendasI & Publikasi Koordinator Yen Ubruangge Anggota : Seluruh Anggota Wilayah Timur | F. Seksi Keamanan Koordinator : Viktor Lokbere Anggota : Seluruh Anggota Wilayah Timur | |
| G. Seksi Usaha Dana: Koordinator : Salia Gwijangge Anggota: seluruh Anggota Wilayah Timur
| ||
XIV. PENUTUP
Demikian ulasan singkat tentang kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia. Wiwa-o, Nayaklak, lauknyak, Kinaonak, Nare, Amolonggo, dan salam sejahtera. Mari saudaraku Sesuku, Sebangsa dan Setanah Air, melalui kongres Nasional I Pelajar dan Mahasiswa Nduga Se-Indonesia, kita menghilangkan Perbedaan Persepsi (menyatukan persepsi) dan mensyukuri perbedaan minat, bakad, talenta, karunia, bidang penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain sebagainya yang Tuhan anugerahkan kepada kita masing-masing serta mengintegrasikannya dalam kerangka menata diri untuk membangun Nduga dan Papua dari kepunahan dan menyatakan diri sebagai tuan-tuan dan nyonya-nyonya Pewaris dan Penghuni Tanah Papua dari Sorong sampai pulau Animha. Atas perhatian serta dukungannya kami sampaikan terima kasih.
Wiwa-o, Wa...Wa...Wa... !!!
******* SELAMAT BERKONGRES *******
"Berdiri dengan kaki sendiri diatas tanah air dan tidur di rumah sendiri yang didirikan diatas tanah sendiri "
NDuga maju trus semangatmu menyala bagai bintang di langit GBU
BalasHapus